JABAR EKSPRES – Pemerintah memperkuat langkah stabilisasi sektor peternakan unggas dengan meningkatkan penyerapan telur dan daging ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan ini diharapkan mampu mengangkat harga di tingkat peternak sekaligus menjaga pasokan protein hewani bagi masyarakat.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah telah menyepakati optimalisasi penyerapan produk unggas sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan pasar.
Baca Juga:Freeport Percepat Perpanjangan Izin Tambang, Draf Divestasi Saham Sudah Diserahkan ke Pemerintah3 Kecamatan di Kabupaten Bogor Dilanda Kekeringan, Ribuan Jiwa Terdampak
Langkah tersebut menjadi penting di tengah tren penurunan harga telur dan ayam hidup yang sempat menekan pendapatan peternak dalam beberapa waktu terakhir.
“Pemerintah memastikan optimalisasi penyerapan produk peternak unggas untuk menunjang Program MBG (Makan Bergizi Gratis,” kata Amran dikutip dari ANTARA, Kamis (18/6).
Menurut Amran, pemerintah tidak ingin harga komoditas unggas terus berada di bawah tingkat yang menguntungkan peternak. Karena itu, berbagai upaya dilakukan agar harga di tingkat produsen tetap mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperbesar porsi konsumsi telur dan ayam dalam Program MBG. Bapanas telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar frekuensi konsumsi kedua komoditas tersebut dapat ditingkatkan.
“Kami sudah koordinasi. MBG agar konsumsi telur dan ayamnya dinaikkan dari satu kali per minggu, kalau bisa tiga kali per minggu,” ucap Amran.
Data Bapanas menunjukkan harga ayam broiler di tingkat peternak mulai bergerak positif. Hingga 15 Juni 2026, rata-rata harga nasional tercatat mencapai Rp22.107 per kilogram, naik dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp21.984 per kilogram.
Meski demikian, disparitas harga antarwilayah masih cukup lebar. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan harga ayam broiler terendah, yakni Rp18.438 per kilogram. Sebaliknya, Riau mencatat harga tertinggi mencapai Rp27.000 per kilogram, bahkan telah melampaui HAP peternak sebesar Rp25.000 per kilogram.
Baca Juga:Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Salurkan 8.000 Liter Air Bersih dan 100 Paket SembakoGagal Live Tawuran di Medsos, 3 Remaja Ditangkap Polisi di Parung Bogor
Untuk komoditas telur ayam ras, harga rata-rata nasional berada di level Rp24.019 per kilogram. Sumatera Selatan kembali menjadi daerah dengan harga terendah sekitar Rp22.000 per kilogram, sedangkan Sulawesi Utara mencatat harga tertinggi mencapai Rp28.000 per kilogram atau di atas HAP yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram.
