JABAR EKSPRES – Suasana hangat dan penuh antusias tampak di lingkungan TK Mutiara Bunda Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, saat puluhan orang tua murid mengikuti kegiatan parenting menjelang anak-anak mereka memasuki jenjang sekolah dasar, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para orang tua untuk lebih memahami kesiapan anak sebelum masuk SD, bukan hanya dari kemampuan membaca dan berhitung, tetapi juga dari sisi psikologis dan perkembangan lainnya.
Kepala Sekolah Imelia Nurunnafisah mengatakan, parenting digelar agar orang tua memahami perubahan-perubahan yang akan dialami anak ketika mulai memasuki dunia sekolah dasar.
Baca Juga:60 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang dalam Kebakaran Peternakan di Cariu BogorBangunan Langgar Garis Sempadan Jalan, Bupati Tasikmalaya: Bongkar Sendiri atau Kita Garuk Pakai Alat Berat!
“Supaya orang tua tidak kaget saat anak mengalami perubahan kebiasaan, kebutuhan, motivasi belajar, dan berbagai perkembangan lainnya sesuai usia dan jenjang pendidikannya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, hadir praktisi psikologi anak dan remaja, Yursiana Permatasari, sebagai narasumber utama. Ia menjelaskan bahwa kesiapan anak masuk SD tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan calistung.Menurutnya, ada empat aspek penting yang harus diperhatikan orang tua, yakni perkembangan kognitif, fisik, sosial emosional, dan bahasa.
“Selama ini banyak orang tua hanya fokus pada kemampuan membaca dan berhitung. Padahal ada perkembangan psikologis lain yang juga sangat penting diperhatikan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pada aspek perkembangan fisik, anak perlu memiliki kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari makan sendiri, pergi ke toilet sendiri, hingga mampu mengurus kebutuhannya tanpa terus bergantung kepada guru.
“Di TK anak-anak masih banyak dibantu guru, termasuk saat makan. Tapi ketika masuk SD, anak dituntut lebih mandiri,” katanya.
Selain itu, perkembangan sosial emosional juga menjadi bekal penting sebelum anak masuk sekolah dasar. Anak perlu belajar mengatur emosi, mampu berinteraksi dengan lingkungan baru, hingga menghadapi dinamika pertemanan yang lebih luas.
“Jangan sampai sudah masuk SD anak masih mudah tantrum. Anak juga harus mulai belajar menghadapi perbedaan pendapat, konflik kecil dalam pertemanan, bahkan memahami cara menghadapi bullying,” tutur Yursiana.
Baca Juga:Hujan Deras Drainase Tersumbat, 50 Rumah dan 179 Jiwa di Cibinong TerdampakJateng Dinilai Paling Siap dalam Mendukung Program 3 Juta Rumah
Sementara dalam aspek perkembangan bahasa, ia menilai kemampuan anak bukan sekadar bisa berbicara dengan teman, melainkan juga memiliki kosakata yang cukup agar mampu memahami pelajaran yang disampaikan guru.“Semakin banyak kosakata anak, semakin mudah juga anak menyimak dan memahami pembelajaran di sekolah,” tambahnya.
