Kemarau Panjang Ancam Lahan Pertanian di Sekitar GBLA, Petani: Ini yang Terparah

Kemarau Panjang Ancam Lahan Pertanian di Sekitar GBLA, Petani: Ini yang Terparah
Petani mengecek kondisi selang pompa air untuk mengairi lahan pertanian yang mengering di Cimekar, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak besar bagi petani di Kota Bandung. Salah satu wilayah yang terdampak adalah lahan pertanian di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Berkurangnya pasokan air membuat petani kesulitan mengairi sawah dan ladang, sehingga aktivitas bercocok tanam tidak dapat berjalan secara normal.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Saepudin (52), seorang petani yang telah menggarap lahan di kawasan sekitar GBLA selama puluhan tahun.

Baca Juga:Sumber Air Alternatif Musim Kemarau, Seke Buka Tanah Masih MemancarPermintaan Air Bersih di Kabupaten Bandung Barat Naik Selama Kemarau

Pengalamannya sebagai petani sejak 1982 membuatnya memiliki gambaran bagaimana perubahan musim memengaruhi sektor pertanian. Namun, menurutnya, musim kemarau yang terjadi belakangan ini merupakan salah satu yang paling berat sepanjang dirinya bertani.

“Selama saya menjadi petani sejak tahun 1982, kondisi yang paling parah terjadi pada tahun lalu di lahan garapan sekitar GBLA. Cuacanya sangat panas,” ujar Saepudin.

Ia menuturkan bahwa suhu udara yang tinggi berlangsung cukup lama sehingga tanah menjadi cepat mengering. Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya ketersediaan air untuk mengairi lahan pertanian.

Akibatnya, petani harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Saepudin, panas yang berkepanjangan membuat pekerjaan di sawah menjadi semakin berat. Air yang biasanya digunakan untuk mengairi tanaman tidak lagi tersedia dalam jumlah yang cukup. Situasi itu membuat para petani harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap bisa bertahan.

“Terutama menjelang akhir musim kemarau, kondisinya semakin berat. Saat itu saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapinya,” katanya.

Sebagai petani yang telah lebih dari empat dekade menggantungkan hidup dari hasil pertanian, Saepudin mengaku belum pernah merasakan kondisi sekering ini. Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan baru bagi petani yang selama ini bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produktivitas lahan.

Baca Juga:Dampak Kemarau di Tasikmalaya Meluas, 26 Kecamatan dan Lebih dari 2.100 Hektare Sawah Alami KekeringanCegah Krisis Air Saat Kemarau, Wali Kota Cimahi Tinjau Pengeboran 8 Titik Sumur Bor

Kawasan pertanian di sekitar GBLA sendiri masih menjadi sumber mata pencaharian bagi sejumlah petani. Meski berada di tengah perkembangan kawasan perkotaan, lahan tersebut tetap dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanaman.

Namun ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, persoalan utama yang muncul adalah menurunnya pasokan air.

0 Komentar