Transaksi Kripto Indonesia Melambat Efek Tekanan Global?

Transaksi Kripto Indonesia Melambat Efek Tekanan Global?
Ilustrasi grafik transaksi kripto Indonesia yang melambat pada Maret 2026. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Transaksi kripto di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Tokocrypto menilai, hal ini tidak lepas dari tekanan global.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyebut, pelambatan transaksi kripto yang terjadi pada Maret 2026 sangat dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global.

“Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar,” ujarnya dalam keterangan, dikutip Senin (11/5/2026).

Baca Juga:Permintaan Emas Meningkat, Peluang Pengembangan Produksi Dalam Negeri?Perkuat Perlindungan Santri, Taj Yasin Dorong Pembentukan Satgas Anti-Kekerasan di Seluruh Pesantren

Kendati begitu, Calvin mengatakan bahwa kondisi itu bukan berarti hilangnya minat investor terhadap aset kripto.

Menurutnya, sikap penuh kehati-hatian para investor saat ini justru menunjukkan banyak pelaku pasar yang masih berada di ekosistem kripto, namun memilih strategi yang lebih defensif.

“Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi,” kata dia.

“Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see,” sambungnya.

Hal itu disampaikan Calvin menanggapi Otoritas Jasa keuangan (OJK) yang menilai pasar kripto Indonesia tengah mengalami tekanan.

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar pada Selasa (5/5), Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso menyampaikan bahwa penurunan transaksi lebih disebabkan oleh proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin pada 2024.

“Ini tentunya menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental, tapi ini sejalan dengan kondisi global, market cap kripto turun sekitar 45 persen dari all time high dari 4,2 triliun dolar AS pada Oktober 2025 menjadi sekitar 2,3 triliun dolar AS pada Maret 2026,” kata Adi.

Baca Juga:Transformasi di Tengah Fluktuasi, PT Pertamina Training and Consulting Gelar RUPS Tahun Buku 2025Diduga Langgar One Way, Mahasiswi Asal Depok Tewas Ditabrak Truk Box di Puncak Bogor

Data OJK menunjukkan transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri atas Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif.

Nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 juga tercatat turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp22,24 triliun.

0 Komentar