Transaksi Kripto Indonesia Melambat Efek Tekanan Global?

Transaksi Kripto Indonesia Melambat Efek Tekanan Global?
Ilustrasi grafik transaksi kripto Indonesia yang melambat pada Maret 2026. Dok. Pexels
0 Komentar

Sementara itu, total nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp75,83 triliun.

OJK juga mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia per Maret 2026 telah mencapai 21,37 juta akun, naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal itu menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital masih terjaga meski pasar berada dalam fase konsolidasi.

Baca Juga:Permintaan Emas Meningkat, Peluang Pengembangan Produksi Dalam Negeri?Perkuat Perlindungan Santri, Taj Yasin Dorong Pembentukan Satgas Anti-Kekerasan di Seluruh Pesantren

“Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka,” ujar Calvin.

Ia menilai prospek perdagangan aset kripto pada kuartal II 2026 berpotensi membaik secara bertahap, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis 80.000 dolar AS pada awal Mei 2026.

“Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto. Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran 78.000-80.000 dolar AS, kepercayaan investor biasanya mulai membaik. Namun, pemulihan ini kemungkinan masih selektif karena pasar tetap mencermati faktor makro, inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter global,” jelas Calvin.

0 Komentar