Sosok Kartini di SMPN 16 Cimahi: Perjalanan Popon Saadah yang 30 Tahun Lebih Mengabdi Mengajar Bahasa Sunda

Popon Saadah, Guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi yang Mengabdikan Hidupnya untuk Mengajar dan Melestarikan Ba
Popon Saadah, Guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi yang Mengabdikan Hidupnya untuk Mengajar dan Melestarikan Bahasa Sunda (Mong)
0 Komentar

Bagi Popon, menjadi pendidik bukan sekadar rutinitas profesi, melainkan sebuah perjalanan yang menawarkan pembaruan makna setiap harinya. Ada gairah yang berbeda saat melangkah ke ruang kelas, sebuah keistimewaan yang menurutnya menjadi alasan mengapa profesi ini sering disebut sebagai rahasia “awet muda”.

“Setiap hari kita berinteraksi dengan anak-anak yang usianya jauh di bawah kita. Secara otomatis, itu memengaruhi pola hidup kita. Energi positif yang mereka pancarkan itu menular,” tutur Popon dengan nada bahagia.

Baginya, keriuhan dan semangat murni dari para siswa adalah bahan bakar yang menjaga jiwanya tetap segar di tengah tuntutan pengabdian.

Baca Juga:Banjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, Ratusan Warga TerdampakPolisi Bongkar Peredaran Narkoba di Jonggol, 1,1 Kg Ganja dan Sabu Disita

Langkah kakinya pertama kali menginjak selasar SMPN 4 Cimahi pada 1989 silam. Saat itu, ia hanyalah seorang gadis muda berusia 22 tahun dari bangku kuliah jurusan Bahasa Sunda di IKIP Bandung, yang kini telah berganti menjadi UPI.

Ada selapis tanya yang sempat mengusik benak Popon ketika melihat rekan sejawatnya. Di ruang guru, ia mendapati dua pengajar Bahasa Sunda yang usianya sudah sangat senja, satu pria dan satu wanita yang ia gambarkan sudah seperti kakek dan nenek.

“Pas Ibu datang, Ibu teh aneh, kenapa guru Bahasa Sunda pada tua-tua?” kenangnya sembari melempar ingatan ke masa awal kariernya.

Bagi Popon, ingatan awal dekade 90-an bukan soal fasilitas, melainkan murni tentang manusia. Mengawali karier di sekolah swasta sembari menanti SK penempatan, ia merasakan betul kontrasnya atmosfer ruang kelas masa itu.

“Anak-anaknya,” jawab Popon ringkas saat mengenang daya pikat mengajar di era tersebut. Tanpa intervensi gawai, siswa generasi 90-an disebutnya lebih mudah dipantik motivasinya.

Efektivitas belajar kala itu juga didongkrak oleh sistem seleksi yang ketat. Penggunaan Nilai Ebtanas Murni (NEM) sebagai saringan masuk menciptakan standar input siswa yang ajek. Baginya, mengajar di SMPN 4 saat itu terasa lebih ringan, ia menghadapi barisan siswa berprestasi yang siap dibentuk tanpa banyak distraksi.

Memasuki milenium baru, tantangan Popon di ruang kelas bergeser drastis seiring penetrasi gawai. Literasi merosot, sementara beban guru Bimbingan Konseling (BK) “naik kelas”; dari sekadar mengurusi siswa bolos menjadi perilaku menyimpang khas orang dewasa.

0 Komentar