“Menurut Ibu mah itu di mana-mana, enggak hanya di satu sekolah aja gitu, semua,” ujar Popon mengenang pergeseran zaman tersebut.
Tiga dekade lebih ia habiskan di SMPN 4 sejak 1989. Selama itu pula, ia kenyang menghadapi drama sebagai wali kelas. Bagi Popon, akar masalah siswa hampir selalu bermula dari rumah, mulai dari keluarga yang retak hingga luka batin yang tak terselesaikan.
“Kenapa mereka terjerumus pergaulan bebas? Ya karena orang tuanya saja cerai, atau dititipkan di neneknya. Anak-anak tuh luka batin, lalu larinya ke hal-hal yang negatif,” ungkapnya.
Baca Juga:Banjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, Ratusan Warga TerdampakPolisi Bongkar Peredaran Narkoba di Jonggol, 1,1 Kg Ganja dan Sabu Disita
Perbedaan latar sosial antara tempatnya mengabdi dulu dan sekarang juga memberi warna tersendiri. Jika di SMPN 4 ia menghadapi siswa dari lingkungan mapan, di SMPN 16 Cimahi ia berhadapan dengan realitas masyarakat urban kelas bawah yang tinggal di kontrakan sempit. Di sana, problem domestik jauh lebih kompleks.
“Siswa di sini (SMPN 16) itu kebanyakan anak-anak masyarakat urban yang pindah dari suatu daerah, ngontrak di rumah yang satu petak, yah muncullah masalah-masalah keluarga,” terang Popon.
Bagi Popon, perbedaan antara siswa era 90-an dan generasi masa kini bukan sekadar perkara angka tahun, melainkan soal pergeseran nilai. Di mata wanita yang telah mengabdi sejak akhir dekade 80-an ini, kehadiran gawai menjadi titik balik yang mengubah lanskap perilaku siswa secara drastis.
“Jadi yang merusak menurut Ibu ya, prediksi Ibu dan kadang suka merenung, di antaranya adalah gadget. Jadi beda perilaku anak tahun 90-an dengan anak sekarang,” renung Popon.
Selain persoalan attitude, ia menyoroti merosotnya budaya literasi. Meski sekolah telah berupaya mengampanyekan gerakan membaca, kenyataan di lapangan berkata lain. Tanpa pembiasaan di rumah, buku tetap kalah saing dengan layar ponsel.
“Literasi anak-anak Indonesia itu rendah, bukan hanya SMPN 16, Ibu rasa semuanya. Jadi membaca itu malas,” tegasnya dengan nada getir.
Realitas ini kian diperparah dengan memudarnya penguasaan bahasa ‘Ibu’. Mengajar Bahasa Sunda di era 90-an, bagi Popon, adalah masa-masa keemasan karena siswa masih akrab dengan bahasa tersebut di lingkungan keluarga.
