JABAR EKSPRES – Sebelum era spidol dan whiteboard, guru adalah “seniman” kapur tulis. Jari-jari yang selalu putih terkena debu kapur adalah pemandangan biasa. Selain itu, penggaris kayu panjang satu meter bukan hanya alat bantu menggambar garis di papan tulis, tapi juga instrumen “terapi” yang sesekali mendarat di meja (atau betis) siswa yang bandel.
Debu kapur dan kerutan di ujung mata menjadi saksi bisu sejak tahun 1989 hingga 2026 menjadi pengabdian bagi sosok wanita yang kini usianya hampir menginjak kepala enam itu tetap tegak berdiri di depan kelas.
Dialah Popon Saadah, guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi yang sudah melalui perjalanan panjang dalam mentransfer ilmu dan menghibahkan seluruh hidupnya demi masa depan anak didik.
Baca Juga:Banjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, Ratusan Warga TerdampakPolisi Bongkar Peredaran Narkoba di Jonggol, 1,1 Kg Ganja dan Sabu Disita
Wanita kelahiran Limbangan, Garut, 13 Oktober 1966 itu, menceritakan saat mulai masuk kelas mengajar dan mempraktikkan ilmunya dari kampus sejak tahun 1989. Bagi Popon, profesi guru merupakan hal yang menarik, karena kata beliau mungkin passion nya di situ.
Langkahnya mungkin tak lagi tegap, namun semangatnya tak pernah surut meski usianya yang sudah tak muda, dan menghadapi beragam karakter siswa dari awal tahun 90-an hingga era teknologi saat ini.
Popon bercerita, dari awal juga merasa tidak ada tantangan yang berat. Meski ada tantangan, tapi bisa diatasi karena sesuai dengan jurusannya yaitu keguruan.
“Waktu kuliah kan belajar, bagaimana cara mengelola kelas. Jadi saya merasa bahwa menjadi guru itu pekerjaan yang sangat menyenangkan,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres di SMPN 16 Cimahi, Jl. Jenderal H. Amir Machmud, Komplek BRSPC No.26, RT.001 RW.012, Cigugur Tengah, Kota Cimahi, Senin (20/4/26).
Bagi wanita bersahaja ini, ruang kelas bukan sekadar tempat bekerja, melainkan panggung pengabdian tempat mimpinya berlabuh. Menjadi pendidik bukanlah pelarian, melainkan cita-cita yang ia rawat sejak muda hingga kini menjadi napas hidupnya.
“Iya sih, ada cita-cita juga. Jadi tersalurkan, dan jadi passion saya sampai hari ini. Dan ternyata menyenangkan sebenarnya. Coba bayangkan, kita masuk ke kelas A dengan masuk ke kelas B sangat beda. Situasi kelas A dengan situasi kelas B beda,” lanjutnya.
