Sosok Kartini di SMPN 16 Cimahi: Perjalanan Popon Saadah yang 30 Tahun Lebih Mengabdi Mengajar Bahasa Sunda

Popon Saadah, Guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi yang Mengabdikan Hidupnya untuk Mengajar dan Melestarikan Ba
Popon Saadah, Guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi yang Mengabdikan Hidupnya untuk Mengajar dan Melestarikan Bahasa Sunda (Mong)
0 Komentar

Kini, ia harus memutar otak lebih keras agar materi yang disampaikan tidak sekadar lewat di telinga siswanya.

“Tahun 90-an itu jaya-jayanya guru Bahasa Sunda menurut Ibu. Soalnya ketika ulangan bagus-bagus. Nah, tahun 2000-an ke sini nih sudah mulai tidak paham, sehingga kita harus ekstra keras berpikir bagaimana supaya kita masuk kelas tuh anak asal seneng aja dulu lah,” bebernya.

Bagi Popon, urusan melestarikan bahasa ibu bukan semata beban di pundak guru di sekolah. Di tengah gempuran tren global, ia melihat ada peran yang terputus di level domestik. Banyak orang tua asli Sunda kini justru enggan mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anak mereka sejak dari rumah.

Baca Juga:Banjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, Ratusan Warga TerdampakPolisi Bongkar Peredaran Narkoba di Jonggol, 1,1 Kg Ganja dan Sabu Disita

“Apa pun, segala hal juga dimulai dari keluarga kan? Dan memang suka beda anak yang di rumahnya diajar Bahasa Sunda, di rumahnya ngomong Bahasa Sunda dengan yang tidak. Mereka yang bicara Bahasa Sunda lebih bisa menerima pelajaran kita,” ungkap Popon.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali ngamumule atau merawat bahasa leluhur melalui pembiasaan sehari-hari. Baginya, mencintai bahasa Sunda adalah bentuk penghormatan terhadap identitas.

Namun, Popon juga tak menutup mata pada realitas pahit di dunia pendidikan saat ini: krisis tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya.

“Nah, sayangnya sekarang itu krisis guru Bahasa Sunda. Di setiap sekolah kurang. Ada yang mengajar Bahasa Sunda itu guru Bahasa Inggris, di SMP lain guru olahraga. Jelas beda, yang bukan jurusannya mengajar Bahasa Sunda rohnya itu enggak ada, roh kesundaannya enggak ada,” terangnya.

Defisit guru spesialis ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah daerah yang terus menggaungkan semangat kesundaan. Tanpa “roh” yang tepat di ruang kelas, Popon khawatir bahasa Sunda hanya akan menjadi catatan di buku pelajaran yang kian asing bagi pemiliknya sendiri.

“Tapi mau gimana lagi karena guru Bahasa Sunda sekarang defisit, sudah langka,” tuturnya dengan suara getir.

Di SMPN 16 Cimahi, Popon menjadi satu-satunya guru spesialis Bahasa Sunda yang tersisa. Beban kerjanya sempat menyentuh angka 30 jam pelajaran per minggu untuk 15 kelas, sebelum akhirnya ia dibantu oleh guru Seni Rupa demi alasan kesehatan.

0 Komentar