JABAR EKSPRES – Banjir yang melanda Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung berdampak luas terhadap permukiman warga hingga sektor pertanian.
Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, menyebut sekitar 75 persen wilayah desa terendam air.
“Kondisi banjir di Desa Tegalluar sangat memprihatinkan. Hampir 75 persen wilayah terendam,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga:Dedi Mulyadi Soroti Banjir Bandung, Tata Ruang Harus Dirombak TotalTak Kunjung Surut, Banjir di Sapan Lumpuhkan Akses dan Aktivitas Warga
Berdasarkan data yang diperoleh Jabar Ekspres, sebanyak 4.075 warga terdampak dari total sekitar 6.700 penduduk. Ribuan rumah warga pun terendam akibat banjir yang belum juga surut.
Tak hanya permukiman, sektor pertanian juga mengalami dampak besar. Dari total luas wilayah desa sekitar 756 hektare, sekitar 500 hektare merupakan lahan pertanian, dan sebagian besar kini terendam.
“Kurang lebih 85 persen lahan pertanian kita terendam. Banyak yang gagal panen,” kata Galih.
Ia menjelaskan, banjir tidak hanya disebabkan oleh curah hujan lokal, tetapi juga kiriman air dari sejumlah wilayah lain yang bermuara ke Sungai Cikeruh.
“Air bukan hanya dari sini, tapi kiriman dari Ujung Berung, Gedebage, Cinambo, sampai Jatinangor dan Rancaekek,” jelasnya.
Untuk penanganan, pemerintah desa bersama Pemerintah Kabupaten Bandung pun telah melakukan normalisasi Sungai Cipamokolan Lama guna memperlancar aliran air.
“Normalisasi sudah dilakukan dan cukup membantu mempercepat penurunan debit air,” ujarnya.
Baca Juga:Banjir 4 Hari Rendam Rancabolang Derwati, 248 KK Terdampak dan Krisis Air BersihWarga Cijagra Terisolasi, Perahu Jadi Andalan di Tengah Banjir Bojongsoang
Ke depan, pihaknya berencana melanjutkan normalisasi ke saluran-saluran kecil agar aliran air semakin optimal.
“Kalau sudah kering, kita akan lanjutkan normalisasi saluran kecil yang terhubung ke Cipamokolan Lama,” tambahnya.
Dorong Pemprov Jabar Ambil Peran Atasi Banjir
Di sisi lain, Galih juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk mengambil peran lebih besar dalam penanganan banjir yang melanda wilayahnya.
Ia menilai persoalan banjir tidak bisa diselesaikan hanya oleh Pemerintah Kabupaten Bandung karena melibatkan wilayah lintas daerah di Bandung Raya.
“Permasalahan ini harus dipikirkan bersama dan bukan menjadi beban Kabupaten Bandung saja, tetapi Bandung Raya,” ujarnya.
Galih menjelaskan, banjir yang terjadi di Desa Tegalluar sebagian besar merupakan kiriman air dari daerah lain seperti Kota Bandung, Sumedang, Jatinangor, hingga Rancaekek yang bermuara ke Sungai Cikeruh.
