Dedi Mulyadi Soroti Banjir Bandung, Tata Ruang Harus Dirombak Total

Banjir yang tak kunjung surut di kawasan Jalan Raya Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang
Banjir yang tak kunjung surut di kawasan Jalan Raya Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung membuat satu sekolah SD Negeri Sapan 3 Terendam. Foto Agni Ilman Darmawan/Jabar Ekspres/
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

Ia menilai penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai dari perubahan menyeluruh pada tata ruang wilayah.

Menurutnya, pembenahan tata ruang menjadi langkah utama yang tidak bisa ditawar untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Baca Juga:Berawal dari Nongkrong Pemuda, Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras di BogorProyek PJU Rp32,7 Miliar di Narogong Belum Optimal, Masih Jadi PR Pemprov Jabar

“Satu, tata ruang Kabupaten Bandung harus berubah, enggak ada pilihan,” ujarnya, Rabu (15/4).

Selain itu, Dedi menekankan pentingnya normalisasi sungai-sungai yang melintasi wilayah terdampak banjir.

Ia juga mendorong adanya rehabilitasi kawasan hulu sungai agar kembali berfungsi sebagai daerah resapan air.

“Yang ketiga, hulu sungainya harus direhabilitasi menjadi lahan hijau. Yang keempat, perubahan lahan jangan terus terjadi. Sawah jangan terus dibikin bangunan, perumahan, segala macam,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tanpa langkah-langkah tersebut, permasalahan banjir akan terus berulang dan tidak akan terselesaikan dalam jangka panjang.

Menurutnya, penataan ruang yang buruk serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kondisi banjir di wilayah Bandung Raya.

Dedi juga mengingatkan pentingnya penertiban bangunan yang berdiri di bantaran sungai.

Baca Juga:Pemkab Bogor Tertibkan Anak Jalanan, Mayoritas Pendatang Akan Dipulangkan ke KeluargaPolisi Gagalkan Peredaran Obat Keras Ilegal di Klapanunggal, Ribuan Pil Disita

Dia menilai keberadaan permukiman di area tersebut mempersempit aliran air dan memperbesar risiko banjir.

“Rumah-rumah di bantaran sungainya harus dialihkan. Tidak boleh lagi rumah di bantaran sungai,” katanya.

Diketahui, banjir saat ini melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, khususnya di bagian selatan.

Sejumlah rumah warga hingga fasilitas publik terdampak cukup parah akibat genangan air.

Salah satu fasilitas yang terdampak adalah SDN Sapan 3. Sekolah dasar di Desa Tegalluar tersebut terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar terpaksa dialihkan menjadi pembelajaran daring sejak Senin.

0 Komentar