JABAR EKSPRES – Di bawah temaram lampu Masjid Al Insyirah, saat sebagian besar dunia masih terlelap dalam mimpi, sebuah suara jernih memecah keheningan malam. Bukan suara orang dewasa dengan jam terbang tinggi, melainkan suara Muhammad Faqih Jundulloh, seorang remaja berusia 12 tahun 11 bulan yang memikul amanah besar sebagai Imam Qiyamullail.
Faqih bukan sekadar remaja biasa. Santri kelas 7 Pontren Daarul Mutqin Kabupaten Bogor ini merupakan representasi generasi keempat Al Bahrum, Limbangan, Garut.
Mengalir darah ulama dari sang buyut, Faqih membuktikan bahwa usia hanyalah angka dalam hal pengabdian dan kecintaan pada Al-Qur’an.
Baca Juga:DPRD Jabar Ancam Amputasi BUMD Merugi demi Selamatkan APBD dan Genjot PADBandul Sanksi Menanti! 157 Perusahaan di Jawa Barat Dilaporkan 'Nunggak' THR 2026
Dedikasi di Sepertiga Malam
Selama sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, dalam program I’tikaf yang dipandu oleh Ustadz Asep Syaripudin, Faqih dipercaya mengimami shalat malam yang dimulai pukul 02.30 hingga 03.30 WIB.
Tugas ini bukanlah perkara ringan; setiap malam ia melantunkan sepuluh halaman atau setengah juz Al-Qur’an secara rutin.
Hingga malam penutupan, Faqih sukses mengimami sebanyak delapan kali dengan total bacaan mencapai 4 juz.
Keteguhannya berdiri di depan jamaah yang terdiri dari mahasiswa hingga orang tua menjadi pemandangan yang menggetarkan hati.
“Alhamdulillah, ini adalah langkah awal. Insya Allah tahun depan agendanya meningkat menjadi satu juz per malam,” ungkap pihak keluarga dengan nada optimis.
Harapannya satu: agar Faqih semakin termotivasi menyelesaikan hafalan 30 juz secara mutqin (kuat dan sempurna).
Magnet bagi Generasi Muda
Kegiatan I’tikaf di Masjid Al Insyirah yang dibuka oleh Ketua DKM Ustadz Hervan Rivano ini memang memiliki daya tarik tersendiri.
Baca Juga:Perkuat Sinergi Masyarakat, Nabati Group Salurkan CSR dan Santunan di MajalengkaTPA Sarimukti Krisis, Komisi IV DPRD Jabar Peringatkan Ancaman Darurat Sampah Idul Fitri
Meski jamaah belum sepenuhnya menetap (ful) selama sepuluh hari, antusiasme masyarakat dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, hingga Sumedang tetap meluap.
Menariknya, kehadiran Imam muda seperti Faqih serta kajian Sirah Nabawiyah yang dikaitkan dengan konteks kekinian menjadi magnet bagi para pemuda dan mahasiswa di sekitar Jatinangor.
Mereka berbondong-bondong hadir di tengah malam, meski tidak mengikuti rangkaian I’tikaf secara penuh.
Lebih dari Sekadar Ibadah
Setiap detiknya diisi dengan makna. Mulai dari pembelajaran Bahasa Arab Terapan bersama Ustadz Luki Sambas pada siang hari, hingga tadarus mandiri selepas Tarawih.
