JABAR EKSPRES – Bagi sebagian orang, tanah dan batuan mungkin hanyalah benda mati. Namun bagi Resa Khoerunisa, setiap lapisan bumi adalah lembaran cerita yang menantang untuk disingkap.
Gadis kelahiran Maret 2003 asal Banjaran, Kabupaten Bandung ini, membuktikan bahwa kerja keras dan keberanian menghadapi tantangan lapangan bisa membawa seseorang menuju puncak prestasi.
Karakter Tangguh di Medan Lapangan
Resa bukanlah sosok yang betah berdiam diri di balik meja. Sejak masa sekolah, ia dikenal sebagai “langganan” juara kelas.
Baca Juga:Jejak Keracunan dan Aroma Amis Anggaran Dapur MBG Kota Cimahi!Menu MBG Kab. Bogor Dikritik, Anggaran Gede Isinya Cuma Telur Rebus dan Keripik Tempe?
Predikat itu terus ia bawa hingga ke bangku kuliah di Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran.
Tak tanggung-tanggung, ia lulus pada Agustus 2025 dengan predikat cumlaude dan IPK nyaris sempurna, 3,76.
“Saya suka di lapangan. Waktu kuliah tugasnya ke lapangan terus, dan sekarang bekerja sebagai konsultan geologi. Sangat linier dengan ilmu saya,” ujar anak bungsu dari empat bersaudara ini dengan mata berbinar.
Baginya, geologi adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan petualangan. Pilihan jurusan ini lahir dari kecintaannya pada alam terbuka dan rasa haus akan tantangan untuk mengenal rahasia semesta.
Titik Balik di Fase Kritis
Namun, perjalanan menuju gelar sarjana tidak selalu mulus. Memasuki tahun terakhir, Resa sempat didera kecemasan. Tugas akhir dan skripsi di jurusan geologi bukanlah perkara murah.
Ada biaya riset lapangan yang besar, pengolahan data, hingga penyusunan peta teknis yang menguras kantong.
Di tengah titik krusial itu, sebuah kabar baik datang dari lereng pegunungan Pangalengan. Resa terpilih sebagai penerima beasiswa prestasi dari Star Energy Geothermal (SEG) Wayang Windu senilai Rp10 juta.
Baca Juga:PN Bandung Digerebek Pendemo, Mahasiswa Tuding Kejari Cianjur Lakukan Kriminalisasi Kasus PJUAmazon Girls’ Tech Day Kenalkan AI, Gaming dan Coding untuk para Siswa
“Ada beberapa persyaratan yang ternyata saya masuk kriteria, salah satunya domisili. Kebetulan saya tinggal di Banjaran, dan Star Energy dekat dengan daerah saya di Pangalengan,” kenangnya.
Bagi Resa, beasiswa ini bukan sekadar angka di atas kertas. Dana tersebut adalah “napas buatan” yang membuatnya bisa fokus menyelesaikan penelitian tanpa harus terbebani biaya lapangan.
Dukungan dari perusahaan panas bumi raksasa itu dirasakannya sebagai bentuk apresiasi nyata atas jerih payahnya selama ini.
