Menu MBG Kab. Bogor Dikritik, Anggaran Gede Isinya Cuma Telur Rebus dan Keripik Tempe?

Awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Bogor diwarnai riak protes. Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) yang d
Awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Bogor diwarnai riak protes. Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) yang digadang-gadang jadi solusi gizi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Bogor diwarnai riak protes. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi solusi gizi bagi anak sekolah justru menuai kritik tajam dari para orang tua murid. Alasannya klasik, Isi menu dianggap tidak sebanding dengan ekspektasi.

“Curhat” Orang Tua, Mana Gizinya?

Beberapa sekolah dasar di Bogor kedapatan membagikan paket makanan yang dinilai “minimalis”. Di SDN Tunggilis Cileungsi, para siswa hanya membawa pulang: 1 butir telur rebus, 1 buah jeruk, 1 bungkus agar-agar, Keripik tempe.

Pemandangan serupa terjadi di SDN Bojong Kulur dan SDN Cipayung 02, di mana MBG paket berisi susu kotak kecil (110 ml), roti, pisang, atau kacang.

Baca Juga:PN Bandung Digerebek Pendemo, Mahasiswa Tuding Kejari Cianjur Lakukan Kriminalisasi Kasus PJUAmazon Girls’ Tech Day Kenalkan AI, Gaming dan Coding untuk para Siswa

“Penyaluran MBG di awal Ramadan ini tidak sesuai harapan. Kalau dihitung-hitung, nilainya seperti tidak sebanding dengan anggaran yang seharusnya,” keluh Rani, salah satu orang tua murid dengan nada kecewa, Senin (2/3/2026).

DPRD Kabupaten Bogor Pasang Badan

Mendengar kegaduhan ini, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim, langsung bereaksi keras. Meski MBG adalah program Pemerintah Pusat, Agus menegaskan bahwa Pemkab Bogor tidak boleh “cuci tangan”.

“Memang ini pertama kalinya di bulan puasa, tapi kalau sudah ada laporan dan keluhan, ya wajib evaluasi. Jangan sampai hak anak-anak kita malah berkurang di bulan Ramadan ini,” tegas politisi PKS tersebut.

Agus berencana menggerakkan Komisi IV DPRD untuk turun langsung mengawasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menuntut transparansi agar komunikasi antara pemerintah dan masyarakat tidak buntu.

Dinkes Klaim Sudah Sesuai Standar

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, mencoba meluruskan persepsi masyarakat. Menurutnya, standar gizi tidak melulu soal porsi yang menggunung, tapi komposisi nutrisinya.

“Mungkin mereka tidak tahu ada kandungan protein di dalam kacang, telur, susu, hingga roti yang dibagikan,” bela dr. Fusia.

Meski merasa sudah sesuai standar, pihak Dinkes berjanji akan melakukan pengecekan ulang terhadap distribusi di lapangan. “Nanti akan kami cek kembali,” pungkasnya singkat. (sdk/yan)

0 Komentar