Jejak Keracunan dan Aroma Amis Anggaran Dapur MBG Kota Cimahi!

Harapan akan generasi emas melalui program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) mendadak berubah menjadi mimpi buruk d
Harapan akan generasi emas melalui program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) mendadak berubah menjadi mimpi buruk di Kota Cimahi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Harapan akan generasi emas melalui program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) mendadak berubah menjadi mimpi buruk di Kota Cimahi. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi, puluhan siswa dari tingkat TK hingga SMP justru harus bertumbangan di lorong-lorong rumah sakit.

Di balik muntahan dan rintihan para siswa, muncul sebuah tanya besar: Apakah ini sekadar kelalaian prosedur, atau ada aroma korupsi yang menyelinap ke dalam dapur-dapur penyedia?

Senin (2/3/2026), suasana di RSUD Cibabat masih menyisakan getir. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati, mengonfirmasi bahwa dari puluhan korban yang sempat kolaps, satu pasien masih tertahan di ruang perawatan.

Baca Juga:Menu MBG Kab. Bogor Dikritik, Anggaran Gede Isinya Cuma Telur Rebus dan Keripik Tempe?PN Bandung Digerebek Pendemo, Mahasiswa Tuding Kejari Cianjur Lakukan Kriminalisasi Kasus PJU

“Pasien di RS Dustira dan RS Mitra Kasih sudah pulang semua. Di RSUD Cibabat tersisa satu orang,” ujar Mulyati dengan nada datar.

Meski kondisi pasien tersebut dilaporkan mulai stabil, fakta di lapangan menunjukkan kengerian yang nyata. Sebanyak 43 orang, termasuk seorang guru, dilaporkan mengalami gejala keracunan akut setelah menyantap paket menu onigiri, apel, susu, dan telur.

Sebuah ironi besar bagi program nasional yang digadang-gadang menjadi tonggak kesehatan bangsa.

Dapur Tanpa Sertifikat, Bom Waktu yang Meledak

Investigasi pasca-kejadian mengungkap fakta mengejutkan mengenai kesiapan infrastruktur pendukung MBG.

Dinas Kesehatan Kota Cimahi mengakui bahwa tidak semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut mengantongi izin resmi.

Dari puluhan vendor yang beroperasi, masih banyak yang “nekat” menyajikan makanan tanpa Surat Keterangan Layak Hidup Sehat (SLHS).

“Sebagian besar, sekitar 30 lebih, sudah memiliki SLHS. Namun sisanya masih dalam proses,” ungkap Mulyati.

Baca Juga:Amazon Girls’ Tech Day Kenalkan AI, Gaming dan Coding untuk para SiswaBuka Puasa Mewah di Lembang Cuma 125 Ribu? Cek Promo Early Bird L’Eminence!

Pengakuan ini seolah mengonfirmasi bahwa ada celah keamanan pangan yang dibiarkan terbuka. Bagaimana mungkin sebuah program yang menyangkut nyawa ribuan anak diserahkan kepada pengelola yang secara administratif belum teruji kelayakannya?

Kini, tim investigasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) telah turun gunung. SPPG yang bertanggung jawab atas insiden ini telah disegel sementara.

Namun, hasil laboratorium dari sampel makanan yang dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat masih menjadi misteri.

Publik dipaksa menunggu dalam ketidakpastian selama satu minggu ke depan untuk mengetahui zat apa yang sebenarnya meracuni anak-anak mereka.

0 Komentar