Mahasiswa KKN UBK di Cibinong Edukasi Warga Manfaatkan Pegagan dan Kunyit sebagai Terapi Pendukung Hipertensi

Mahasiswa KKN UBK di Cibinong Edukasi Warga Manfaatkan Pegagan dan Kunyit sebagai Terapi Pendukung Hipertensi
Mahasiswa KKN UBK di Cibinong Edukasi Warga Manfaatkan Pegagan dan Kunyit sebagai Terapi Pendukung Hipertensi. (foto: Ricka)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat berbasis kearifan lokal, mahasiswa Program Studi D3 Farmasi Universitas Bhakti Kencana (UBK) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 2 melaksanakan program pengabdian masyarakat inovatif bertajuk “Dari Taman ke Meja Makan: Edukasi Tanaman Obat (Pegagan dan Kunyit) untuk Membantu Kendalikan Hipertensi Secara Alami”.

Kegiatan yang direncanakan berlangsung selama bulan Februari 2026 ini akan menyasar masyarakat Kampung Curug Pakansari, RT 04 RW 04, Jl. H. Abdul Hadi, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tim KKN yang diketuai oleh Ricka Apriliani ini beranggotakan Ranti Ansestu Sada, Radha Anandya, Tridessi Sugiarti, Ratna Dewi, Ratu Dhienda Mawarni, Dhani Pangestu, Fajri Ali Yapie, dan Meilinda, dengan bimbingan Dr. apt. Agus Sulaeman, M.Si., Dekan Fakultas Farmasi UBK yang juga merupakan dosen pembimbing lapangan.

Baca Juga:Mahasiswa KKN UBK Melakukan Edukasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Cibatu GarutMahasiswa KKN RPL D3 Farmasi UBK Tingkatkan Pengetahuan dan Kepatuhan Minum Obat Lansia Prolanis

Analisis Situasi dan Identifikasi Permasalahan Mitra

Berdasarkan hasil observasi awal dan komunikasi intensif dengan pengurus RT/RW serta masyarakat setempat, tim KKN menemukan sejumlah permasalahan kesehatan yang memprihatinkan.

Kampung Curug Pakansari yang merupakan kawasan permukiman padat penduduk dengan latar belakang sosial ekonomi beragam ini memiliki prevalensi penyakit kronis yang cukup tinggi, terutama hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, dan hiperurisemia pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia.

Masyarakat cenderung menganggap penyakit metabolik tersebut sebagai kondisi wajar yang terjadi seiring bertambahnya usia, sehingga kepatuhan terhadap pengobatan jangka panjang masih sangat rendah.

Wilayah ini sebenarnya memiliki potensi besar berupa tanaman obat keluarga (TOGA) yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga, khususnya pegagan (Centella asiatica) dan kunyit (Curcuma longa).

Pegagan dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang berpotensi membantu memperbaiki sirkulasi darah dan fungsi pembuluh darah, sementara kunyit mengandung kurkumin yang berkhasiat sebagai anti inflamasi dan antioksidan.

Namun demikian, pengetahuan masyarakat tentang manfaat, cara pengolahan yang benar dan higienis, dosis yang tepat, serta keamanan penggunaan kedua tanaman obat tersebut masih sangat terbatas.

Pemanfaatan tanaman herbal selama ini hanya dilakukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa memperhatikan prinsip penggunaan obat yang rasional, termasuk potensi interaksi dengan obat medis yang sedang dikonsumsi.

0 Komentar