Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah kebingungan masyarakat dalam mengatur waktu minum obat saat menjalankan ibadah puasa.
Ketidaktepatan pengaturan jadwal konsumsi obat, baik obat medis maupun obat herbal, berpotensi menurunkan efektivitas terapi dan meningkatkan risiko efek samping.
Kondisi ini diperparah dengan masih minimnya kegiatan edukasi kesehatan yang membahas pengobatan penyakit metabolik secara menyeluruh, termasuk pemanfaatan tanaman obat dan cara minum obat yang benar selama puasa, yang belum terprogram secara berkelanjutan di tingkat RT/RW.
Baca Juga:Mahasiswa KKN UBK Melakukan Edukasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Cibatu GarutMahasiswa KKN RPL D3 Farmasi UBK Tingkatkan Pengetahuan dan Kepatuhan Minum Obat Lansia Prolanis
Solusi dan Rancangan Program Kegiatan
Merujuk pada analisis situasi dan identifikasi permasalahan tersebut, tim KKN Kelompok 2 merancang serangkaian solusi komprehensif yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam penanganan penyakit kronis secara tepat, aman, dan berkelanjutan.
Program inti akan dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di lingkungan RT 04 RW 04 Kampung Curug Pakansari, dengan melibatkan partisipasi aktif dari ketua RT/RW, kader kesehatan, tenaga kesehatan setempat, serta masyarakat sebagai sasaran utama.
Kegiatan akan diawali dengan acara pembukaan oleh ketua KKN, dilanjutkan sambutan dari dosen pembimbing lapangan dan ketua RT setempat.
Rangkaian kegiatan inti meliputi skrining kesehatan sederhana yang mencakup pemeriksaan tekanan darah (hipertensi), gula darah (diabetes melitus), dan asam urat menggunakan alat tes cepat.
Hasil skrining ini akan menjadi data awal kondisi kesehatan masyarakat sekaligus bahan evaluasi keberhasilan program.
Setelah sesi skrining, Dr. apt. Agus Sulaeman, M.Si. menyampaikan materi penyuluhan kesehatan secara interaktif.
Materi yang disampaikan mencakup pengertian penyakit metabolik (hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, dan hiperurisemia), faktor risiko, gejala awal, komplikasi yang dapat timbul, serta pentingnya kepatuhan dalam pengobatan jangka panjang.
Baca Juga:Mahasiswa Universitas Bhakti Kencana Bandung Gelar Sosialisasi Dampak Negatif Napza di SMPN 1 SukarajaPenasaran Seberapa Gelap Sisi Kepribadianmu? Link Tes Psikopat Viral Google Form Ini Sedang Ramai Dicoba
Fokus utama penyuluhan adalah pemanfaatan tanaman pegagan dan kunyit sebagai terapi pendukung, meliputi penjelasan ilmiah mengenai khasiat kedua tanaman tersebut, demonstrasi cara pengolahan sederhana dan higienis, aturan konsumsi yang dianjurkan, dosis yang tepat, serta batasan penggunaannya agar tidak menggantikan pengobatan medis yang sedang dijalani.
Sesi yang tidak kalah penting adalah edukasi mengenai pengaturan waktu minum obat yang benar, khususnya saat menjalankan ibadah puasa.
