Indikator keberhasilan program diukur melalui beberapa parameter, antara lain peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit metabolik dan pemanfaatannya yang diukur melalui pretest dan posttest sederhana, tingkat partisipasi dan antusiasme masyarakat selama kegiatan berlangsung, kemampuan masyarakat dalam mempraktikkan cara pengolahan pegagan dan kunyit yang benar, serta umpan balik positif dari peserta terkait manfaat kegiatan.
Keberlanjutan program akan dijaga melalui penguatan peran kader kesehatan dan tokoh masyarakat dalam menyebarluaskan informasi, pemantauan kesehatan melalui pemeriksaan rutin mandiri, serta terbentuknya kesadaran kolektif akan pentingnya pola hidup sehat dan pemanfaatan tanaman obat keluarga secara bijak.
Dukungan dan Harapan Keberlanjutan Program
Kesuksesan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ketua RT setempat, Bapak Royani, telah menyatakan kesediaannya bekerjasama melalui surat pernyataan resmi dan berkomitmen untuk mendukung penuh kelancaran kegiatan, mulai dari penyediaan tempat, koordinasi peserta, hingga pendampingan selama program berlangsung.
Baca Juga:Mahasiswa KKN UBK Melakukan Edukasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Cibatu GarutMahasiswa KKN RPL D3 Farmasi UBK Tingkatkan Pengetahuan dan Kepatuhan Minum Obat Lansia Prolanis
Kader kesehatan setempat juga akan dilibatkan secara aktif dalam pelaksanaan skrining kesehatan dan pemberian arahan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan.
Dr. apt. Agus Sulaeman, M.Si. selaku dosen pembimbing memberikan apresiasi atas inisiatif dan kreativitas mahasiswa dalam merancang program yang aplikatif dan berkelanjutan.
“Program ini sangat strategis karena tidak hanya memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal yang selama ini terabaikan. Pendekatan dari taman ke meja makan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis sumber daya lokal yang dapat direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.
Ricka Apriliani selaku ketua tim menambahkan bahwa program ini dirancang dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan jangka panjang.
“Kami tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi seremonial belaka. Oleh karena itu, kami melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat sejak awal perencanaan, menyerahkan media edukasi yang dapat digunakan kapan saja, serta merancang sistem evaluasi dan rujukan ke fasilitas kesehatan jika ditemukan hasil pemeriksaan yang tidak normal. Kami berharap masyarakat dapat terus mempraktikkan pola hidup sehat dan memanfaatkan tanaman obat secara mandiri meskipun program KKN ini telah berakhir,” jelasnya.
