JABAR EKSPRES – 32 kepala keluarga di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terpaksa mengungsi setelah retakan tanah terus memanjang di sekitar permukiman mereka.
Kondisi yang terjadi sejak Januari 2026 itu dinilai masih berpotensi adanya longsor susulan. Badan Geologi pun merekomendasikan relokasi bagi warga Kampung Cihaseum dan Cipariuk yang tinggal di zona terancam.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan longsoran bertipe translasi dengan kondisi lereng yang masih labil.
Baca Juga:PA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOARayakan Imlek 2026 di Bandung, Ini Promo Dinner di Hotel Kota Bandung
“Dari hasil kajian kami, lereng di lokasi tersebut belum sepenuhnya stabil. Dengan kondisi geologi dan intensitas hujan yang masih tinggi, potensi gerakan tanah susulan tetap ada,” ujar Lana dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, lapisan tanah pelapukan yang gembur dan berpori berada di atas batuan vulkanik lebih keras serta kedap air. Perbedaan karakter lapisan itu membentuk bidang gelincir alami.
“Ketika tanah jenuh air, tekanan pori meningkat dan kekuatan lereng menurun. Kontak antara tanah pelapukan dan batuan di bawahnya menjadi bidang gelincir yang memicu longsor,” jelasnya.
Selain faktor geologi, kemiringan lereng yang tergolong curam hingga sangat curam turut memperbesar risiko. Aktivitas pertanian dengan tanaman berakar dangkal, sistem drainase yang belum optimal, serta pemotongan lereng tanpa penguatan teknis juga mempercepat pergerakan tanah.
Atas kondisi tersebut, Badan Geologi menyarankan rumah yang rusak maupun permukiman di zona rawan untuk direlokasi demi keselamatan warga.
Selain relokasi, sejumlah langkah mitigasi turut direkomendasikan. Di antaranya tidak membangun di lereng curam tanpa rekayasa teknis, mengganti tanaman sayuran dengan tanaman keras berakar kuat, serta membenahi sistem drainase sesuai kaidah teknis.
“Pembuatan terasering disarankan dengan sudut maksimal 15 derajat dan menjaga rasio jarak aman antara lereng dan permukiman sebesar 1:3,” kata Lana.
Baca Juga:Penjahit Rumahan Bersiap Hadapi Lonjakan PesananDi Balik Kue Keranjang Imlek, Ada Konsistensi yang Terjaga Lebih dari Dua Dekade
Saat ini, seluruh warga terdampak telah mengungsi. Dari total 32 KK, sebanyak 16 KK atau sekitar 45 jiwa tinggal di tenda darurat, sementara sisanya menumpang di rumah kerabat. Lokasi pengungsian dipilih tidak jauh dari permukiman agar warga tetap dapat memantau kondisi rumah mereka.
