Inflasi Capai 3,55 Persen yoy di Januari 2026, Tertinggi Setelah Empat Tahun Terakhir!

Inflasi Capai 3,55 Persen yoy di Januari 2026, Tertinggi Setelah Empat Tahun Terakhir!
Ilustrasi RI mengalami inflasi tahunan tertinggi pada Januari 2026 dalam hampir empat tahun terakhir. Dok. Freepik
0 Komentar

JABAR EKSPRES – RI mengalami inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tertinggi di Januari 2026 sebesar 3,55 persen yoy setelah hampir empat tahun terakhir.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Atang Hartono menyebut, inflasi tahunan ini tertinggi setelah sebelumnya sempat menyentuh 4,00 persen pada Mei 2023.

“Inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen (yoy) merupakan inflasi yang tertinggi sejak tahun 2023, di Mei 2023 inflasinya kan 4,00 persen (yoy),” ujarnya di Jakarta, dikutip Selasa (3/2/2026).

Baca Juga:Menteri PKP Optimis Jalankan Program Perumahan, Sebut Kepercayaan Publik Jadi Modal UtamaDanantara Buka Peluang Investor Asing Jadi Pemegang Saham BEI?

Berdasarkan data BPS, inflasi di awal tahun ini menjadi catatan kedua yang menyentuh di atas 3,5 persen yoy. Di mana terakhir kali di atas 3,5 persen tercatat pada Juni 2023 lalu.

Tingkat inflasi tahunan selanjutnya berkisar antara 3,27 persen yoy, yang terjadi pada Agustus 2023, hingga yang terendah sebesar 0,76 persen yoy, tercatat pada Januari 2025.

Perekonomian Indonesia bahkan sempat mengalami deflasi secara tahunan, yakni pada Februari 2025 sebesar 0,09 persen yoy akibat diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah sebesar 50 persen.

Dengan demikian, tingkat inflasi tahunan pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen yoy, yang tercatat sedikit lebih tinggi dari target sasaran pemerintah yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, merupakan capaian tertinggi dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir.

Ateng menuturkan inflasi tahunan sebesar 3,55 persen yoy pada Januari 2026 tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 109,75 dibandingkan 105,99 pada Januari 2025.

“Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi year-on-year (pada Januari 2026) utamanya didorong oleh Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi tinggi, yaitu 11,93 persen. (Kelompok) ini juga memberi andil (inflasi tahunan) cukup tinggi, yaitu 1,72 persen,” jelasnya.

Kelompok Pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya merupakan penyumbang andil inflasi terbesar selanjutnya, dengan inflasi sebesar 15,22 persen dan andil sebesar 1,00 persen.

Baca Juga:Naik Dua Kali Lipat, Batas "Free Float" Saham jadi 15 Persen per Februari 2026!Airlangga: Keberlanjutan GovTech Diperlukan untuk Akuntabilitas dan Transparansi

Ateng mengatakan komoditas penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Januari 2026 adalah tarif listrik dengan andil 1,49 persen, emas perhiasan 0,93 persen, ikan segar 0,19 persen, serta beras dan tarif air minum PAM yang masing-masing memiliki andil 0,14 persen.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso meyakini bahwa inflasi pada 2026 dan 2027 secara tahunan (year on year/yoy) akan menurun sehingga berada dalam kisaran atau rentang target.

0 Komentar