JABAR EKSPRES – Kota Bandung kembali masuk dalam daftar kota termacet di dunia. Berdasarkan TomTom Traffic Index terbaru, Bandung menempati peringkat ke-16 kota termacet sedunia, sekaligus menjadi salah satu kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan lalu lintas dan transportasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota Bandung.
Dalam laporan tersebut, tingkat kemacetan di Bandung tercatat tinggi dengan waktu tempuh rata-rata perjalanan yang semakin membengkak, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Kecepatan kendaraan di sejumlah ruas utama kota bahkan berada jauh di bawah rata-rata ideal kawasan perkotaan.
Baca Juga:DPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat SasaranKritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman Bersuara
Pengamat transportasi perkotaan dari kalangan Akademisi, Dr. Rizky Hidayat menilai, kembali masuknya Bandung dalam jajaran kota termacet dunia bukanlah hal mengejutkan. Hal ini merupakan akumulasi persoalan lama yang belum ditangani secara sistemik.
Ia menilai kemacetan Bandung disebabkan oleh tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sementara daya dukung infrastruktur jalan relatif terbatas.
“Bandung menghadapi masalah klasik kota besar, yakni pertumbuhan kendaraan yang jauh lebih cepat dibandingkan kapasitas jalan. Tanpa perubahan pola mobilitas, kemacetan akan terus berulang,” ujarnya kepada Jabarekspres, Kamis (22/1).
Selain itu, Bandung juga berperan sebagai kota tujuan wisata dan pendidikan, yang menyebabkan lonjakan kendaraan dari luar daerah, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Kondisi ini semakin memperparah beban lalu lintas di pusat kota dan jalur utama.
Dirinya menilai, salah satu akar masalah kemacetan Bandung adalah transportasi umum yang belum mampu menjadi pilihan utama warga. Keterbatasan rute, integrasi antarmoda yang lemah, serta kenyamanan dan ketepatan waktu yang belum konsisten membuat masyarakat masih enggan meninggalkan kendaraan pribadi.
“Selama transportasi umum belum cepat, nyaman, dan terintegrasi, masyarakat akan terus memilih motor atau mobil. Ini persoalan kepercayaan publik terhadap sistem transportasi,” paparnya.
Sejumlah langkah strategis dinilai perlu segera diambil oleh Pemkot Bandung untuk mengurai kemacetan secara berkelanjutan.
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
Menurut Rizky, yakni penguatan transportasi umum massal harus menjadi prioritas utama, baik melalui optimalisasi bus perkotaan, pengembangan sistem BRT, maupun integrasi dengan kereta api dan angkutan pengumpan.
