JABAR EKSPRES – Banjir yang kerap merendam sejumlah wilayah di Kota Cimahi dalam beberapa hari terakhir bukan semata persoalan hujan deras atau penyempitan sungai.
Di balik genangan yang terjadi di kawasan Cigugur Tengah, Padasuka, hingga Jalan Usman Dhomiri, terdapat persoalan struktural yang lebih dalam: perubahan tata guna lahan yang masif dan minimnya daya serap lingkungan.
Kepala Bidang Penataan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Ario Wibisono menyebut fenomena banjir tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai runoff atau limpasan air hujan yang tidak tertampung secara optimal oleh sistem lingkungan.
Baca Juga:Masifnya Pembangunan Perumahan Picu Banjir di Kota CimahiDi Balik Rumah Singgah Cipageran, Ini Cara Pemkot Cimahi Tata Ulang Perlindungan Warga Rentan
“Saya turut prihatin terhadap warga yang terdampak. Dari sudut pandang lingkungan hidup, ini masuk kategori runoff,” ujar Ario pada Jabar Ekspres, Rabu (7/1/26).
Runoff terjadi ketika air hujan tidak mampu diserap oleh tanah maupun ruang terbuka hijau, lalu mengalir langsung ke drainase. Masalah muncul ketika kapasitas drainase tidak memadai atau telah menyempit, sehingga air meluap dan menyebabkan genangan.
Meski bersifat tidak permanen, karena air biasanya surut setelah hujan reda dampaknya tetap merugikan warga.
Menurut Ario, akar persoalan runoff di Cimahi tidak bisa dilepaskan dari alih fungsi lahan. Ruang terbuka, khususnya lahan hijau, terus menyusut akibat pembangunan kawasan terbangun yang semakin masif.
“Kalau lahan terbuka, apalagi hijau, diubah menjadi bangunan atau beton, maka secara nyata akan menimbulkan runoff. Air hujan yang sebelumnya langsung diserap tanah dan tanaman, kini langsung lari ke drainase,” jelasnya.
Fenomena ini, kata Ario, semakin terasa dalam satu dekade terakhir. Cimahi kini menjadi salah satu kawasan hunian favorit di Bandung Raya. Harga tanah dan rumah pun melonjak, seiring pesatnya pembangunan perumahan dan kawasan komersial.
“Pembangunan yang masif ini menghilangkan ruang terbuka. Dampaknya langsung terasa ketika hujan turun, karena air tidak lagi punya ruang untuk meresap,” katanya.
Baca Juga:Atasi Krisis Ketersediaan Darah di Cimahi, UPD RSUD Cibabat Mulai BeroperasiDi Tengah Keterbatasan Sumber Daya Alam, UMKM jadi Penyangga Ekonomi Cimahi
Masalah semakin kompleks karena Cimahi tidak memiliki kawasan hulu sungai. Seluruh mata air dan hulu aliran sungai yang melintasi kota ini berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
