Lewat Inovasi Seni di Laboratorium Kesenian, Universitas Pakuan Lahirkan Modul dan Opera Minimalis "Keclak"

Lewat Inovasi Seni di Laboratorium Kesenian, Universitas Pakuan Lahirkan Modul dan Opera Minimalis \"Keclak\"
Lewat Inovasi Seni di Laboratorium Kesenian, Universitas Pakuan Lahirkan Modul dan Opera Minimalis \"Keclak\". Foto: Pelatihan workshop sanggar prabu dan tim pkm pakuan02
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Universitas Pakuan kembali menunjukkan komitmennya dalam mengangkat seni dan budaya lokal melalui program pengabdian kepada Masyrakat (PkM), bertajuk Prabu’s EchoVerse: Mahadimensi Suara, Mengukir Emosi, Menyatukan Komunitas dalam Kanvas Opera.

Melalui program inovatif ini, Universitas Pakuan sukses menggelar serangkaian pelatihan di Laboratorium Kesenian Universitas Pakuan, hingga menghadirkan kolaborasi antara akademisi, seniman, dan komunitas teater.

Kegiatan itu didukung oleh hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Baca Juga:Larangan Impor Pakaian Bekas Matikan Pelaku Usaha Thrifting, Hipmi: Harus Diiringi Kemandirian IndustriDemi Gaet Investor Frontier, Indonesia Tawarkan Reformasi Fiskal dan Dua Hal Ini!

Tak hanya itu, kegiatan ini menggandeng Teater Sanggar Prabu untuk memperkenalkan opera modern yang berpadu dengan kekayaan seni tradisi lokal.

Ketua Tim PkM, Dipo Krishyudi Ono dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Unpak, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas anggota Teater Sanggar Prabu melalui pendekatan kreatif dan aplikatif.

“Kami ingin opera menjadi lebih dekat dengan akar budaya kita. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar teknik panggung, tetapi juga memahami nilai-nilai lokal yang bisa diangkat dalam karya opera,” ujarnya, Minggu (9/11).

Workshop pertama berfokus pada pelatihan vokal opera, akting panggung, dan penulisan naskah libretto.

Tim PkM yang juga beranggotakan Yogaprasta Adi Nugraha dan Yelni Rahmawati, serta berkolaborasi dengan Asril Gunawan dari Universitas Mulawarman, menghadirkan sejumlah narasumber profesional di bidang seni pertunjukan.

Budayawan Dede Muklis, salah satu pemateri, menekankan pentingnya revitalisasi budaya lokal melalui bentuk seni baru.

“Kearifan lokal kita adalah harta tak ternilai. Melalui opera, kita berikan nyawa baru pada kisah-kisah leluhur,” tuturnya.

Baca Juga:Canangkan Angkutan Tambang Dibawa Kereta, Pemkab Bogor Sebut Agar Tak Bebani Jalan RayaPemerintah Klaim Angka Pengangguran Turun Signifikan pada Agustus 2025, Benarkah? 

Pelatihan berlanjut pada tahap kedua yang membahas sistem suara, pencahayaan, dan tata panggung.

Praktisi penyiaran Ari Afriansyah turut berbagi pengalaman teknisnya dalam manajemen produksi pertunjukan. Antusiasme peserta pun terlihat tinggi.

“Dulu kami pikir opera itu rumit dan mahal. Sekarang kami belajar cara membuatnya sendiri. Rasanya lebih percaya diri untuk tampil,” ucapnya.

Selain peningkatan keterampilan, program ini juga menghasilkan modul panduan terstruktur agar pelatihan serupa dapat berkelanjutan di masa mendatang.

0 Komentar