JABAR EKSPRES – Pernahkah kamu menyukai seseorang? Awalnya tampak cocok, komunikasi berjalan lancar, lalu akhirnya menjalin hubungan, atau setidaknya berada dalam status “hubungan tanpa status” (HTS), atau dalam istilah Gen Z, “friends with benefits” (FWB). Atau bahkan, kamu malah terlanjur salah memilih pasangan?
Di awal, hubungan itu mungkin terasa baik-baik saja, meskipun diwarnai konflik kecil. Namun, seiring waktu, kamu mulai merasa hubungan tersebut tidak sehat. Kamu merasa semakin lelah, mulai meragukan diri sendiri dan keputusan yang kamu ambil. Meski demikian, kamu tetap sulit melepaskan diri dari orang itu.
Bahkan setelah hubungan berakhir, kamu berpikir, “Oke, setelah ini aku akan mencari sosok yang berbeda.” Tapi entah kenapa, kamu kembali jatuh cinta pada orang yang mirip, mirip secara fisik, sifat, cara memperlakukanmu, bahkan cara mereka menyakitimu atau menghilang tanpa jejak pun serupa.
Ketika kamu mulai menyadari pola ini, kamu mungkin bertanya-tanya,
“Kenapa aku sering salah memilih pasangan?”
“Kenapa ini terus terjadi?”
“Kenapa rasanya lebih damai saat sendiri?”
Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang
“Kenapa saat menjalin hubungan malah rasanya ratusan kali lebih melelahkan dibanding saat aku sendiri?”
Dan bagi kamu yang mungkin masih menjomblo sejak lama, kamu juga mungkin kesal dengan temanmu yang terus-menerus terjebak dalam hubungan seperti ini, lalu datang padamu untuk curhat dengan masalah yang sama berulang kali. Kamu sudah mencoba mengingatkan, namun orang itu tetap keras kepala, hingga kembali terjebak dalam hubungan toxic yang sama.
Sebagian orang mungkin akan berkata, “Ini masalah takdir.”
Ada juga yang berpikir, “Ini karena kita memang tidak diajarkan keterampilan menjalin hubungan yang sehat.”
Misalnya, jika sejak awal kita belajar soal cinta dan relasi, melalui buku, video edukatif, atau konten media sosial, mungkin hasilnya bisa berbeda.
Semua pendapat itu memang valid.
Namun dalam pembahasan kali ini, aku ingin mengangkat sudut pandang yang berbeda. Bagaimana jika kesalahan yang kamu ulang terus-menerus dalam memilih pasangan sebenarnya adalah pola yang berasal dari masa lalu?
