JABAR EKSPRES — Pembangunan BRT On Corridor di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, mulai menuai kekhawatiran dari pengguna jalan. Proyek yang digadang-gadang menjadi bagian dari solusi transportasi publik tersebut justru dinilai berpotensi menambah beban kemacetan apabila tidak diikuti rekayasa lalu lintas yang matang.
Kekhawatiran itu disampaikan Ginanjar (36), pengendara ojek online yang hampir setiap hari melintasi Jalan Ahmad Yani.
Ia mengakui kemacetan di kawasan tersebut bukan persoalan baru. Namun, aktivitas pembangunan BRT membuat ruang gerak kendaraan semakin terbatas.
Baca Juga:Dishub Kabupaten Bandung Dorong Transportasi Berkelanjutan, Hadirkan 6 Koridor BRT dan 11 FeederĀ Wajah Baru Terminal Cicaheum, Kios Pedagang Dibongkar untuk Proyek Depo BRT
“Kalau buat pengendara motor, memang agak macet karena ada proses pembangunan BRT ini. Tapi untuk ke depannya saya juga belum tahu seperti apa,” ujar Ginanjar, Senin (5/9).
Menurutnya, Jalan Ahmad Yani memang sudah menjadi kawasan langganan macet. Kepadatan kendaraan biasanya mulai terjadi sejak siang dan terus berlangsung hingga malam.
“Memang sudah langganan macet. Bahkan sebelum ada pembangunan ini juga sudah macet,” katanya.
Ginanjar menyebut kemacetan biasanya mulai terasa sekitar pukul 14.00 WIB dan semakin parah menjelang sore hingga malam hari.
“Kalau mulai sekitar jam 2 siang biasanya sudah mulai macet. Terus sampai sore, bahkan bisa sampai sekitar jam 7 malam,” ungkapnya.
Sebagai pengendara yang bersentuhan langsung dengan kondisi lalu lintas, Ginanjar berharap pemerintah tidak hanya mengejar pembangunan fisik BRT, tetapi juga memikirkan dampaknya terhadap arus kendaraan selama maupun setelah proyek selesai.
Ia menilai pengaturan lalu lintas menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Terlebih, terdapat sejumlah titik persimpangan yang selama ini memang menjadi sumber penumpukan kendaraan.
Baca Juga:BRT Bandung Dinilai Sulit Diminati Jika Tak Punya Kepastian Waktu TempuhFarhan Pastikan Angkot Tak Akan Dihapus, Disiapkan Jadi Feeder Transportasi BRT
“Kalau ada flyover mungkin bagus. Mungkin juga perlu ada petugas yang mengatur lalu lintas,” ujarnya.
Ginanjar menyoroti kawasan pertigaan sebagai salah satu titik yang paling rawan terjadi penumpukan. Kendaraan yang hendak berbelok kerap membuat arus lalu lintas tersendat.
“Di bagian pertigaan itu. Biasanya yang paling parah saat kendaraan mau belok. Di situ memang super macet,” katanya.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pembangunan BRT yang seharusnya menjadi solusi transportasi publik justru dapat menambah persoalan baru apabila tidak disertai manajemen lalu lintas yang efektif.
