Kita sebenarnya tidak hanya tertarik pada orang yang “menarik”, dalam arti umum. Kita juga cenderung tertarik pada orang yang terasa familiar. Jadi bukan hanya seseorang yang memesona seperti artis, tapi juga orang-orang yang secara emosional mengingatkan kita pada sesuatu yang kita kenal, walaupun mungkin tidak selalu positif.
Contohnya seperti ini: jika kamu tumbuh dalam keluarga yang secara emosional terasa dingin, tidak pernah merasakan kasih sayang, jarang dipeluk, atau tidak bisa membicarakan perasaanmu secara terbuka, maka satu-satunya cara untuk mendapat perhatian mungkin adalah dengan menjadi “anak baik”. Strategi ini lalu menjadi cara bertahan hidup yang kamu bangun sejak kecil.
Ketika dewasa, strategi tersebut bisa berubah menjadi pola yang terus berulang. Kamu mungkin menjadi tertarik pada pasangan yang cuek, karena tanpa sadar kamu sudah terbiasa dengan dinamika seperti itu, bahwa kamu harus “berusaha dulu” agar dianggap layak diperhatikan. Kamu akhirnya mengulang pola masa kecil dalam hubungan romantis.
Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang
Dan akhirnya, kamu terus-menerus mencari validasi dari orang yang sebenarnya sulit memberikan perhatian, karena rasanya begitu familiar. Padahal, sejak kecil kamu tidak suka diperlakukan seperti itu. Di dalam hatimu, kamu sebenarnya ingin dicintai dan diperhatikan. Namun, ketika ada orang yang tulus memberi perhatian, kamu justru menjauh, karena itu terasa asing. Itu bukan “bentuk cinta” yang biasa kamu kenal sejak kecil.
Mungkin kamu bisa merasa relate di sini. Kadang, orang yang baik justru kita tolak, karena kehadiran mereka terasa tidak familiar. Otak kita seolah sudah menganggap bahwa cinta itu harus seperti yang dulu kita alami, meskipun menyakitkan. Karena itu sudah menjadi pola.
Di sinilah pentingnya kesadaran terhadap pola tersebut. Sebelum kamu menyadarinya, mungkin kamu tidak akan pernah benar-benar bisa memilih pasangan yang lebih sehat untukmu. Kamu perlu memahami dulu mengapa kamu selalu tertarik pada orang yang sebenarnya tidak baik untukmu, dan kamu pun sadar itu, tapi tetap saja kamu menyukainya.
