“Tahu enggak guys, ini kasus lucu. Ada lima orang pemain judol ditangkap sama Polda DIY, dan tahu enggak kenapa? Bukan karena mereka bandar, tapi karena mereka membobol situs judol. Caranya? Bikin akun baru, main, menang. Bikin akun lagi, main lagi, menang lagi. Eh, ditangkap. Pertanyaannya: yang lapor siapa? Jangan-jangan bandarnya?”
Netizen lain ikut memberikan komentar yang bernada satir:
“Bandar judi harus untung, kalau rugi nanti yang di atas juga kena dampaknya.”
“Kok malah ditangkap, bukannya justru harusnya dikasih penghargaan karena nunjukin kelemahan sistem?”
“Atas laporan masyarakat? Hmm… masyarakat yang mana nih?”
Baca Juga:PPATK Blokir Rekening Tidak Aktif, Rakyat Kecil Kena, Koruptor LolosPonsel Rp3 Jutaan Ini Bisa Rekam 4K 60fps! Motorola G86 Power 5G Bikin Kaget
“Akun gue tiap posting soal pemberantasan judol langsung disuspend. Semoga X (Twitter) enggak gitu-gitu amat, ya.”
Ini sebenarnya kasus macam apa? Siapa yang membuat laporan? Kalau yang melaporkan adalah pihak yang merasa dirugikan, berarti dia adalah bandarnya, bukan? Kalau begitu, seharusnya dia juga ditangkap, diproses hukum, bahkan, kalau mau ekstrem, diumumkan ke publik agar masyarakat tahu. Tapi nyatanya, tidak ada tindakan terhadap bandar. Polisi malah terlihat tidak berdaya.
Ucapan dari netizen pun mulai menyindir: “Semoga keluarga polisi dan institusi kepolisian sendiri sadar akan ironi ini.” Doa yang terdengar satir, tapi itulah ekspresi kekecewaan.
Kini publik mulai percaya bahwa para bandar judi memang dilindungi. Inilah alasan mengapa praktik perjudian online sulit diberantas. Situasi ini seperti memberi kesan bahwa Polda DIY justru membela bandar. Yang merasa dirugikan ada dua pihak, pertama, si bandar. Kedua, pihak yang melindungi bandar tersebut.
Mungkin saja bandarnya melapor, “Hei, bisnis saya dirugikan oleh mereka yang membobol sistem.” Lalu dijawab, “Tenang, akan kami tangani.” Ironis, bukan?
Padahal kemarin kita baru saja membahas pentingnya memberantas judi. Dan jangan lupa—mereka yang membobol situs juga sebenarnya adalah pemain. Jadi kenapa pemain yang membobol situs untuk mengincar kelemahan sistem justru ditangkap? Bukankah seharusnya mereka dianggap sedang menunjukkan celah dari sistem itu sendiri?
Alih-alih didukung untuk membongkar kelemahan sistem, mereka malah dijerat hukum. Kalau begitu, tangkap saja semuanya, yang membobol situs karena ingin untung dan bandarnya juga. Tapi yang terjadi, hanya pemainnya yang ditindak.
