JABAR EKSPRES – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi mengungkap tren peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di wilayahnya.
Ironisnya, mayoritas korban berasal dari keluarga dengan ekonomi lemah, dan tak sedikit pelakunya justru berasal dari lingkungan terdekat.
“Memang kebanyakannya kalangan-kalangan ke bawah sebetulnya. Tapi pernah terjadi di sekolah juga,” ujar Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi, Fitriani Manan saat dikonfirmasi wartawan, Senin (4/82025)
Baca Juga:Pemkot Bandung Siapkan Skema Penertiban di Arcamanik, 23 Bangunan Liar akan Dibongkar Guna Normalisasi SungaiTerungkap! Pelaku Pembunuhan di Cibiru Bandung Ternyata Gunakan Celurit
Sepanjang Januari hingga Juli 2025, DP3AP2KB mencatat sedikitnya ada 16 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Angka ini naik dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 13 kasus. Sebelumnya, pada 2023 tercatat 28 kasus, dan melonjak cukup tinggi di 2022 dengan 49 kasus.
Fitriani mengakui, banyak korban yang enggan melapor atau bicara terbuka karena tekanan psikologis maupun rasa takut terhadap pelaku yang biasanya merupakan orang terdekat.
“Pelakunya bisa dari keluarga atau mungkin dari lingkungan sekolah. Mereka kebanyakan tutup mulut dan tidak berani speak up,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pihaknya tak hanya fokus pada pendampingan hukum, tapi juga memulihkan kondisi mental dan sosial korban.
“Nah ini tugas kami, selain mengembalikan fungsi sosialnya, mengembalikan psikologisnya, juga memberikan motivasi untuk kalau memang mau di bawa ke ranah yang lebih tinggi, ke ranah hukum, kami siap mendampingi,” tegas Fitriani.
Sebagai langkah pencegahan, DP3AP2KB telah membentuk tim khusus di setiap satuan pendidikan. Tim ini diharapkan mampu mendeteksi dan mengantisipasi potensi kekerasan seksual sejak dini di lingkungan sekolah.
Baca Juga:Sertifikasi Halal Jadi Strategi Bisnis UMK untuk Tembus Pasar GlobalPemerintah Perkuat Koperasi Desa Lewat Skema Jaminan Dana, OJK Apresiasi Langkah Strategis
“Dengan adanya tim tersebut, kami berharap bisa mengantisipasi kekerasan seksual di tiap satuan pendidikan,” tambahnya.
Tak hanya itu, DP3AP2KB juga bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga untuk mendampingi anak-anak yang menjadi korban kekerasan atau perundungan.
“Kalau ada anak-anak yang jadi korban kekerasan seksual itu langsung ditangani P2TP2A. Sedangkan untuk anak yang baru menjadi korban bully kita dampingi ke Pusat Pembelajaran Keluarga,” pungkasnya. (Mong)
Reporter: Firman Satria
