JABAR EKSPRES – Saat ini, kami merasa bahwa banyak anak-anak muda mengalami kesulitan bahkan hanya untuk menyelesaikan soal-soal perkalian dasar. Ada sebuah video yang memperlihatkan seorang siswa SMA menjawab soal 6 + 10 dengan hasil 60. Kita tentu bertanya-tanya, dari mana logika itu berasal?
Tidak hanya dalam hitungan dasar, pemahaman terhadap pengetahuan umum juga menunjukkan penurunan. Misalnya, dalam sebuah video eksperimen sosial, seseorang ditanya tentang negara-negara di Eropa, namun justru menjawab bahwa Garut adalah salah satu negara Eropa. Tentu ini terdengar sangat aneh.
Atau mungkin Anda juga sudah mengetahui kasus sekelompok siswa yang gagal mengikuti SNBP atau SNBT karena kelalaian pihak sekolah. Dalam kasus tersebut, Wakil Kepala Sekolah justru lebih sibuk membuat konten media sosial daripada mengurus siswanya. Ini adalah contoh nyata dari kondisi memprihatinkan dunia pendidikan di Indonesia saat ini.
Pertanyaannya kemudian, mengapa semua ini bisa terjadi?
Baca Juga:7 HP Infinix Terbaik 2025 dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Terjangkau10 Fitur Baru iOS 26 Keren Ini Wajib Dicoba Pengguna iPhone di 2025
Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, kami juga ingin menyampaikan bahwa sistem pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan jauh dari kata “standar”.
Krisis Kualitas Pendidikan di Indonesia
Peralihan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka memang menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Meskipun kurikulum ini mengadopsi beberapa pendekatan dari sistem pendidikan Finlandia, kita perlu mengakui bahwa implementasinya tidak semudah yang dibayangkan. Ini tetap merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.
Sebenarnya, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Meski banyak kekurangan dalam kebijakan yang diterapkan, kenyataannya memang pendidikan Indonesia sedang tidak dalam kondisi ideal, bahkan bisa dibilang mengalami kemunduran.
Contohnya adalah ketika Ujian Nasional (UN) masih diterapkan, siswa memiliki motivasi untuk belajar lebih giat karena UN menjadi syarat kelulusan. Jika gagal, maka tidak akan lulus. Namun sejak UN dihapus pada tahun 2020, semangat belajar justru semakin menurun. Banyak siswa yang akhirnya tidak termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, seperti yang kita lihat hari ini: soal sederhana seperti 6 + 10 bisa dijawab 60.
Lebih parahnya lagi, sekarang ada kebijakan bahwa meskipun nilai siswa buruk, mereka tetap akan dinaikkan ke kelas berikutnya. Padahal dahulu, untuk bisa naik kelas, siswa harus berjuang keras. Kini, dengan sistem seperti ini, semangat belajar justru semakin memudar.
