Akibatnya, mereka yang memiliki kemampuan dan potensi sering kali terpinggirkan hanya karena tidak memiliki uang atau koneksi. Praktik suap-menyuap ini juga berdampak buruk terhadap kualitas sekolah itu sendiri. Misalnya, ketika suatu daerah mengadakan perlombaan antar sekolah dan sekolah yang terkena dampak suap mengirimkan siswa yang sebenarnya tidak memenuhi kualifikasi, maka besar kemungkinan mereka gagal berkompetisi secara layak.
Bahkan jika mereka tetap bisa mengikuti lomba, hasilnya pun tidak akan memuaskan. Ini akan mencoreng nama baik sekolah dan menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan di sana. Dalam skala yang lebih luas, hal ini juga berdampak pada citra pendidikan nasional Indonesia saat dilakukan survei internasional, karena hasilnya akan menunjukkan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
Contoh lainnya, saat ada waktu jam kosong, seharusnya waktu tersebut digunakan untuk pembinaan atau aktivitas produktif yang dipandu oleh kepala sekolah. Namun pada kenyataannya, banyak kepala sekolah enggan mengisi waktu tersebut dengan kegiatan bermanfaat. Sementara itu, siswa pun cenderung menggunakan jam kosong sebagai waktu istirahat atau bermain, bukannya belajar.
Baca Juga:7 HP Infinix Terbaik 2025 dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Terjangkau10 Fitur Baru iOS 26 Keren Ini Wajib Dicoba Pengguna iPhone di 2025
Jika mentalitas seperti ini terus dibiarkan, bagaimana mungkin Indonesia bisa menjadi negara dengan sistem pendidikan yang baik? Bagaimana bisa kita menghasilkan generasi cerdas dan berkualitas, jika baik guru maupun siswanya sama-sama tidak menunjukkan komitmen terhadap pendidikan?
Jadi, masalah pendidikan di Indonesia bukan hanya soal sistem yang kurang tepat, tetapi juga menyangkut sumber daya manusianya (SDM) yang belum ideal. Namun, perlu diingat bahwa SDM yang lemah sering kali terbentuk dari sistem yang lemah pula.
Sekarang, ketika kita sudah menyadari bahwa sistemnya bermasalah dan SDM-nya juga belum sepenuhnya baik, maka sudah saatnya kita semua melakukan introspeksi. Mulailah memperbaiki diri dari sekarang, karena perubahan tidak akan datang jika kita hanya menunggu. Kita semua, baik sebagai siswa, guru, orang tua, maupun masyarakat, memiliki peran dalam memperbaiki kondisi pendidikan bangsa.
