Sampai Kapan Mangkrak? Drainase 400 Meter Lumpuhkan Rancaekek

Seorang anak sedang menyebrangi jembatan darutat dari kayu hasil swadaya warga yang kondisinya kian rapuh, sebab mangkraknya proyek normalisasi drainase DPUTR Kabupaten Bandung di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, wilayah Kampung Rancabatok, RW09 dan RW22, Desa Rancaekekwetan, Kecamatan Rancaekek. (Yanuar/Jabar Ekspres)
Seorang anak sedang menyebrangi jembatan darutat dari kayu hasil swadaya warga yang kondisinya kian rapuh, sebab mangkraknya proyek normalisasi drainase DPUTR Kabupaten Bandung di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, wilayah Kampung Rancabatok, RW09 dan RW22, Desa Rancaekekwetan, Kecamatan Rancaekek. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Proyek normalisasi drainase yang mangkrak di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, tepatnya di wilayah Kampung Rancabatok, RW09 dan RW22, Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung kondisinya semakin buruk.

Bagaimana tidak, saluran drainase yang sudah dibongkar itu, dibiarkan tanpa ada kejelasan perbaikannya. Jembatan sementara yang dibuat oleh warga menggunakan kayu, kini kian rapuh, menimbulkan ancaman terjatuh dan membuat estetika kumuh.

Lebih parahnya, kondisi drainase yang dibongkar oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, tak hanya dibiarkan kumuh tapi juga telah memakan korban.

Baca Juga:Gedung Bersejarah di Cimahi Terancam Rusak, TACB Desak Pemerintah Segera Lakukan PelestarianBangunan Liar Cemari Sungai Cimahi, Dinas PUPR Targetkan Penertiban Termasuk Milik Dua Perusahaan Besar

Pengakuan warga di lokasi, seorang ustadz dan bocah pernah jatuh ke dalam drainase. Belum lama ini pun, satu unit angkot nyaris kecebur, akibat saluran air yang dibiarkan terbuka tersebut.

Mantan Kadus 4 Desa Rancaekekwetan, Didin Sahidin mengaku, dampak yang paling besar dirasakan oleh warga hingga saat ini adalah ekonomi.

Pasalnya, akibat proyek normalisasi drainase ini hanya sebatas pembongkaran, tapi belum juga dilanjutkan dan tanpa ada pengamanan, lambat laun para pengusaha menutup kios atau tokonya.

“Ya, karena kondisinya semakin kumuh dan jembatan darurat yang dibangun mandiri menuju kios atau toko pada rusak, warga terpaksa menutup kios dan toko,” katanya, Minggu (20/7).

Menurut sejumlah warga, proyek drainase yang pembongkaranya dilakukan awal Maret 2025 lalu, dampaknya sangat terasa bagi puluhan pengusaha, tak terkecuali para petani yang biasa dapat mengangkut hasil panen menggunakan mobil, kini kendaraan roda empat harus diparkirkan di pinggir jalan. Setiap karung harus dipanggul mandiri.

Di lokasi proyek normalisasi drainase mangkrak dengan panjang 400 meter itu, ada sekira 40 pungusaha, kondisinya kini terpuruk.

Proyek normalisasi drainase itu, hanya membongkar jembatan ke kios, toko, rumah dan jalan ke pemukiman. Adapun warga, secara mandiri dan swadaya membuat jembatan darurat ala kadarnya.

Baca Juga:Tragedi Longsor Padasuka, Proyek Kirmir Tuai SorotanMisteri Kematian Diplomat Muda di Kosan: Wajah Dililit Lakban, Pengamat Sebut Ada Unsur Simbolik dan Pesan Psikis

“Warga terutama pengusaha berharap proyek drainase segera dilanjutkan demi kenyamanan dan keamanan serta puluhan pengusaha pun bisa mengais rezeki dengan normal,” bebernya.

Didin mengungkapkan, sejumlah warga kian resah terhadap proyek normalisasi drainase yang mangkrak tersebut. Mengingat jembatan darurat yang dibangun mandiri oleh warga, kondiainya semakin rapuh.

0 Komentar