JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyiapkan langkah besar dalam pembenahan transportasi umum, dengan wacana penghapusan trayek angkot lama yang dinilai sudah tidak relevan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa sistem angkot yang ada saat ini, sebagian besar ditetapkan sejak tahun 1984, sudah tertinggal jauh dari kebutuhan mobilitas masyarakat modern.
“Trayek angkot itu dari tahun 1984 sudah tidak pernah diganti. Angkot, Anda lihat sendiri, nggak ada yang bagus sama sekali. Sudah ditinggalkan oleh masyarakat, dan masyarakat sekarang lebih senang menggunakan moda transportasi lain,” tegas Farhan, Rabu (9/7).
Baca Juga:Kembali ke Bandung sebagai Lawan, Nick Kuipers dan Edo Febriansyah Disambut Sorakan BobotohPemkot Bandung Pastikan Teras Cihampelas Tidak Dibongkar, Hanya Perlu Perbaikan?
Namun, penghapusan trayek bukan dilakukan secara sepihak. Pemkot bersama para pemangku kepentingan, termasuk koperasi angkot, sedang membicarakan solusi pengganti yang konkret, salah satunya lewat pengembangan konsep angkot cerdas, moda transportasi baru berbasis kendaraan listrik dengan sistem “sharing ride”.
“Orang pertama yang saya ajak ngobrol adalah koperasi angkot. Bahkan beberapa dari mereka sudah mengusulkan jenis kendaraan listrik. Keren sih menurut saya. Ini idenya dari teman-teman angkot juga,”* ujarnya.
Dalam skema angkot cerdas, Kota Bandung akan dibagi menjadi sekitar 30 wilayah kerja, yang secara umum mengikuti batas-batas kecamatan. Angkot cerdas akan beroperasi dalam satu wilayah, dan penumpang harus berpindah moda ketika berpindah kecamatan.
“Misalnya Anda dari Kecamatan Coblong mau ke Sumur Bandung, Anda turun dulu di titik akhir wilayah Coblong, katakanlah Cikapayang. Lalu nyambung lagi ke wilayah berikutnya,” jelas Farhan.
Sistem ini dirancang menyerupai konektivitas antarlini seperti BRT atau MRT, untuk mempercepat pergerakan tanpa perlu kendaraan pribadi.
Tarif awal dirancang sebesar Rp7.000 per perjalanan, dengan sistem “tap-in, tap-out”. Namun, ketika penumpang berpindah kendaraan, tidak dikenai tarif penuh lagi, melainkan hanya 1,5 persen dari tarif awal, selama masih dalam waktu koneksi yang ditentukan (kurang dari satu jam).
“Saya naik angkot, tap, maka dipotong Rp7.000 dari kartu saya. Kalau saya pindah angkot, akan dipotong hanya 1,5 persen. Tapi kalau saya tap-nya lebih dari satu jam, kena 7 ribu lagi,” terang Farhan.
Baca Juga:Rumah di Cibabat Rusak Akibat Tanah Bergerak, BPBD Tegaskan Masuk Golongan LongsorLatihan Kepemimpinan PPP, Modal Bangkit dari Ketiadaan Kursi di Parlemen
Sistem pembayaran akan diintegrasikan dengan moda lain seperti BRT, dan semua pembayaran akan berbasis digital.
