Deklarasi BRICS 2025: Perkuat Multilateralisme, Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Indonesia

Presiden Lula Kecam Lonjakan Belanja Militer Global
Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, memberikan pidato pembuka dalam sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang berlangsung di Museum Seni Modern, Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu, 6 Juli 2025. (SUMBER FOTO: ANTARA/Andi Firdaus)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS terbaru dinilai membawa angin segar bagi tatanan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut bahwa kesepakatan yang tertuang dalam Leaders’ Declaration memperkuat prinsip multilateralisme sekaligus mendorong reformasi sistem global.

Menurut Airlangga, deklarasi ini mencerminkan komitmen kuat negara-negara BRICS dalam menjaga perdamaian dunia, memperkuat kerja sama ekonomi, serta mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Baca Juga:Drama Semifinal Piala Dunia Antarklub 2025, Reuni Mbappe dan Duel Mantan di MetLife StadiumPelayanan Kesehatan Dipertanyakan, DPRD Cimahi Warning RSUD Cibabat soal Diskriminasi

“Salah satu hasil pertemuan adalah Leaders’ Declaration yang mencakup poin-poin penting mengenai penguatan multilateralisme dan reformasi tata kelola global,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Selasa (8/7).

Deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya menjaga perdamaian serta stabilitas internasional. Negara-negara anggota BRICS sepakat untuk mempererat kolaborasi di sektor ekonomi, perdagangan, dan keuangan.

Airlangga menegaskan bahwa bagi Indonesia, hasil pertemuan ini sangat strategis, terutama dalam membuka akses pasar baru dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Poin kedua ini menjadi penting bagi Indonesia di tengah ketidakpastian. Kita punya BRICS yang diharapkan bisa juga untuk menyerap pasar dari produk-produk Indonesia,” jelas Menko.

Selain itu, deklarasi juga menyoroti isu perubahan iklim dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan yang adil dan inklusif. Negara berkembang, termasuk Indonesia, mendapatkan perhatian khusus dalam proses transisi energi.

Negara-negara BRICS sepakat bahwa pembangunan hijau harus mempertimbangkan keadilan bagi negara berkembang. Ini penting untuk transisi yang tidak timpang.

Poin keempat dalam Leaders’ Declaration menekankan penguatan kemitraan di bidang sosial, pembangunan manusia, dan kebudayaan.

Baca Juga:Liga 1 Dimulai 8 Agustus, VAR Meluas ke Liga 2Pendaki Tewas di Puncak Sunan Ibu Kawah Putih, Diduga Tak Siapkan Peralatan Memadai

Indonesia dalam hal ini menilai kerja sama ini penting untuk mendorong transformasi sosial yang merata dan saling memperkuat di antara negara-negara anggota.
“Itu merupakan salah satu hasil dari Leaders’ Declaration,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bank sentral dan kementerian keuangan BRICS juga berkomitmen memperkuat sistem perdagangan multilateral yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengungkapkan bahwa negara-negara BRICS juga sepakat memperluas kerja sama di sektor-sektor strategis seperti sistem pembayaran, keamanan siber, dan pembiayaan berkelanjutan.

“Ke depan, negara-negara BRICS sepakat untuk memperkuat kerja sama internasional,” kata Filianingsih.

0 Komentar