Disdagkoperin Cimahi Tegaskan Kenaikan Harga Gas Bukan Mendadak, Ini Alasannya!

Kepala Bidang Perdagangan Disdagkoperin Cimahi (Paling Kiri) saat Meninjau Sejumlah Pangkalan Gas LPG di Cimahi (Mong)
Kepala Bidang Perdagangan Disdagkoperin Cimahi (Paling Kiri) saat Meninjau Sejumlah Pangkalan Gas LPG di Cimahi (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga gas LPG 3 kilogram (gas melon) sejak 16 Juni 2024 lalu memantik dinamika baru di lapangan. Di balik keputusan pemerintah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi Rp19.600 per tabung di tingkat pangkalan se-Bandung Raya, ternyata tak semua pelaku distribusi siap menjalankan aturan.

Beberapa pangkalan gas di Kota Cimahi diketahui menaikkan harga secara sepihak hingga menyentuh angka Rp22 ribu.

Fenomena ini diungkap Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Indra Bagjana, dalam agenda monitoring lapangan bersama tim Hiswana Migas dan Rista Koperin, yang kini memasuki minggu ketiga.

Baca Juga:Penutupan Tambang Karst Citatah hanya Gimik? Pemprov Jabar Dinilai Tak Serius Lindungi LingkunganNasib Pesapon Pahlawan Adipura Tak Lolos P3K, Puluhan Tahun Mengabdi Jaminan Hari Tua Nihil

“Di wilayah Bandung Raya kita kompak, 4 kabupaten/kota serentak naik per 16 Juni. HET-nya di angka Rp19.600 di tingkat pangkalan. Yang perlu dimonitor adalah jangan sampai ada yang menjual melebihi itu,” kata Indra saat di temui di pangkalan gas Jalan Ranca Bali No. 25, Kelurahan Pasirkaliki, Cimahi, Rabu (2,7,25).

Indra mengungkapkan, secara umum distribusi gas melon di Cimahi masih terkendali. Namun, terdapat laporan masyarakat yang langsung ditindaklanjuti dengan pembinaan kepada pangkalan yang bersangkutan.

“Belum sampai ke penegakan. Dan setelah dibina, mereka menyatakan siap dan memahami,” ujarnya.

Pengawasan intensif dilakukan sejak 16 Juni hingga 4 Juli 2024, menyusul kekhawatiran akan terjadinya antrean dan panic buying di tengah masa transisi penyesuaian harga.

“Di minggu pertama memang sempat ada fenomena panic buying. Kami juga koordinasi dengan Pertamina untuk penambahan kuota secara fakultatif,” jelas Indra.

Menurutnya, bila masyarakat tidak panik, pasokan gas sejatinya cukup. “Pada intinya, kalau tidak ada panic buying, sebetulnya kota ini aman,” sambung Indra.

Selama tiga minggu ini, tim gabungan sudah menyasar 50 pangkalan dari total 336 titik yang tersebar di seluruh kelurahan se-Kota Cimahi. Metode sampling digunakan untuk menggali potensi pelanggaran.

“Minggu pertama 37, sekarang sudah 50. Semua kelurahan sudah disampling,” ujar Indra.

Baca Juga:Oknum Perangkat Desa Mulyasari Diduga Gadaikan 4 Motor DinasKBB Gelar Aksi Gizi Massal untuk Ribuan Pelajar

Dari hasil pemantauan, ditemukan empat titik pangkalan yang menjual di atas HET, yakni di wilayah Cigugur, Cipabat, Cipagran, dan Dewi. Salah satu modus deteksi yang digunakan adalah memancing jawaban harga melalui pesan WhatsApp. Bila terbukti melanggar, Disdagkoperin langsung terjun memberikan pembinaan.

0 Komentar