JABAR EKSPRES – Dua kejadian kebakaran lahan dalam dua hari berturut-turut menjadi sinyal meningkatnya ancaman kebakaran di Kabupaten Tasikmalaya selama musim kemarau. Setelah api membakar area eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mangunreja pada Minggu (2/8/2026), kebakaran kembali terjadi di lahan alang-alang seluas sekitar satu hektare di Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaresik, Senin (3/8/2026).
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kondisi lahan yang semakin kering akibat kemarau membuat api lebih mudah muncul dan cepat merambat. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kebakaran berpotensi meluas hingga mengancam permukiman, lahan pertanian, bahkan mengganggu kualitas udara.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan meningkatnya potensi kebakaran harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pencegahan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika api sudah membesar.
Baca Juga:Dalam Sehari, Tiga Kebakaran Lahan Terjadi di Tiga Kecamatan Bandung BaratDiduga Akibat Korsleting Listrik, Kebakaran Melanda Lahan Kosong di Pamoyanan Bogor Selatan
“Musim kemarau membuat vegetasi dan lahan menjadi sangat kering sehingga sangat mudah terbakar. Kami mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan, tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, dan segera melapor apabila menemukan titik api agar bisa ditangani sebelum meluas,” ujar Jembar, Senin (3/8/2026).
Kebakaran pertama terjadi di eks TPA Pasirbeunying, Desa Mangunreja. Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merembet ke tumpukan sampah lainnya hingga memunculkan kepulan asap tebal. Berkat respons cepat FK Tagana dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Tasikmalaya, api berhasil dikendalikan sehingga tidak meluas ke kawasan sekitar.
Namun, belum genap 24 jam, kebakaran kembali terjadi di Kampung Jamana RT 01/RW 05, Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaresik. Dugaan sementara, api dipicu puntung rokok yang mengenai alang-alang kering. Sekitar satu hektare lahan terbakar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan melalui kerja sama FK Tagana, Damkar, BPBD, TNI, Polri, dan perangkat desa.
Jembar menilai dua kejadian beruntun tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat langkah mitigasi. Selain meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan petugas, edukasi kepada masyarakat perlu terus digencarkan agar kebiasaan yang berpotensi memicu kebakaran dapat diminimalkan.
“Mayoritas kebakaran lahan berawal dari kelalaian manusia. Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi benteng pertama dalam mencegah kebakaran. Jangan menunggu api membesar baru bertindak. Pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas,” tegasnya.
