JABAR EKSPRES – Pedagang Pasar Gedebage, Kota Bandung keluhkan terkait ketidakjelasan retribusi kebersihan di kawasan tersebut. Pasalnya, pembayaran tak dibarengi dengan pengolahan sampah yang dilakukan secara optimal.
Salah satu pedagang santan kelapa di Pasar Gedebage, Adar mengungkapkan, setiap hari ia harus membayar dua kali iuran kebersihan dan keamanan. Pungutan tersebut datang dari dua pihak berbeda, yakni PT Ginanjar sebagai pengelola pasar dan paguyuban pedagang.
Menurutnya beban iuran ini membuat pedagang harus mengeluarkan uang lebih. Untuk kebersihan saja, ia mengeluarkan Rp10.000 per hari, Rp5.000 untuk masing-masing pihak.
Baca Juga:Cinta Berujung Maut, Kekasih Dibantai hingga Tewas Gegara Utang Rp1,5 JutaBupati Kritik Keterbatasan RSUD Ciamis, Alat Medis Tak Lengkap hingga SDM Dipertanyakan
“Akhirnya saya akali, sehari bayar ke paguyuban, besoknya ke pengelola. Jadi dalam sebulan keluar sekitar Rp150.000,” ungkapnya.
Tak hanya itu, masalah lain yakni terkait sistem manajerial parkir. Setiap memarkir kendaraan, pembeli harus membayar Rp2.000, dan jika berpindah toko, biaya serupa kembali dikenakan. Hal ini, menurut pedagang, membuat pembeli enggan berlama-lama berbelanja di pasar.
“Kalau parkir mahal dan ribet begini, pembeli kapok. Imbasnya ke kita, dagangan jadi sepi,” ungkapnya.
Dirinya berharap, Pemkot Bandung bisa segera memfokuskan penyelesaian terkait masalah tersebut. Diakuinya, pedagang telah lama mengeluhkan terkait ketidakjelasaan operasional pasar. (Dam)
