Dari Daycare hingga SMA, Cendekia Muda Membangun Pendidikan Berbasis Nilai Islam

Dari Daycare hingga SMA, Cendekia Muda Membangun Pendidikan Berbasis Nilai Islam
Foto: R.Padya/ Jabar Ekspres
0 Komentar

Pada daycare dan TK, pendidikan lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan, permainan, cerita, dan pengenalan ibadah. Di SD, kegiatan berkembang melalui pembelajaran tematik, eksplorasi, proyek, dan keterlibatan orang tua.

Memasuki SMP, siswa mendapatkan pembelajaran berbasis proyek sekaligus pendampingan menghadapi masa remaja. Sementara di SMA, kegiatan mulai diarahkan pada kepemimpinan, pengalaman sosial, kemampuan digital, perencanaan masa depan, dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah sekolah.

Bagi Febrie, kesinambungan tersebut tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada peran guru. Menurutnya, guru menjadi salah satu bagian penting dalam menerjemahkan nilai yang ingin dibangun sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Baca Juga:SDN 026 Cibaduyut Direlokasi, Pemkot Bandung Pastikan Pembangunan Sekolah Baru Segera BerjalanBukan Sekadar Akademik, SD Plus Al-Fatwa Perkuat Qurani, Literasi, dan Karakter Siswa

Tantangannya, kata Febrie, adalah memastikan guru terus berkembang. Guru tidak hanya dituntut menguasai bidang pelajaran, tetapi juga memahami perkembangan remaja, pedagogi, konseling, isu terkini, dan karakter siswa yang semakin kritis.

Ziyad sendiri melihat hubungan antara guru dan siswa sebagai salah satu hal yang masih perlu terus dikembangkan. Ia berharap metode pembelajaran dapat lebih menyesuaikan minat siswa.

“Jangan terbatas sama keahlian guru itu terus. Anak-anak sukanya begini, coba disesuaikan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kebiasaan keagamaan yang awalnya ditemui sebagai bagian dari aturan sekolah perlahan menjadi sesuatu yang lebih personal.

“Kalau pribadi aku sendiri sih ya udah kebawa. Karena kebiasaan ini jadinya udah nyaman sendiri,” kata Ziyad.

Pada akhirnya, model pendidikan Cendekia Muda memperlihatkan upaya untuk membangun satu pendekatan pendidikan Islam yang diterapkan secara bertahap sejak usia dini hingga remaja. Tantangannya bukan hanya mempertahankan nilai yang sama di setiap jenjang, tetapi juga memastikan nilai tersebut tetap dapat diterima dan relevan bagi siswa ketika mereka menghadapi lingkungan yang terus berubah. (**)

0 Komentar