Beranjak ke Pembelajaran Tematik dan Proyek
Pendekatan tersebut berlanjut di SD Islam Cendekia Muda yang berdiri pada 2005. Di tingkat ini, proses pembelajaran mulai lebih banyak menggunakan pembelajaran tematik, eksplorasi, dan proyek.
Program sekolah mencakup pembiasaan ibadah, hafalan Al-Qur’an dengan metode Ummi, proyek bersama orang tua, pertunjukan semester, exploration day, hingga market day. Orang tua juga dilibatkan melalui kegiatan parenting, forum komunikasi, dan proyek keluarga.
Sekolah juga menyediakan pilihan SD Bilingual Arab–Indonesia. Program ini berbeda dari konsep sekolah bilingual yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.
Baca Juga:SDN 026 Cibaduyut Direlokasi, Pemkot Bandung Pastikan Pembangunan Sekolah Baru Segera BerjalanBukan Sekadar Akademik, SD Plus Al-Fatwa Perkuat Qurani, Literasi, dan Karakter Siswa
Dalam program tersebut, bahasa Arab diperkenalkan karena sekolah memandangnya memiliki hubungan dengan bahasa Al-Qur’an dan ibadah. Bahasa Indonesia tetap digunakan, sementara bahasa Arab diterapkan secara bertahap dalam sejumlah pembelajaran seperti Al-Qur’an, sirah, adab, dan doa.
Penggunaan bahasa Arab juga dilakukan melalui kegiatan yang lebih praktis, seperti percakapan, lagu, poster, dan aktivitas tematik. Dengan demikian, bahasa Arab tidak ditempatkan sebagai satu-satunya bahasa yang digunakan dalam seluruh kegiatan belajar.
Nilai Islam Masuk ke Pembelajaran SMP
Di jenjang SMP, pendekatan pendidikan tersebut menjadi lebih kompleks karena siswa mulai memasuki masa remaja.
Kepala Sekolah SMP Islam Cendekia Muda, Febrie Maulina, S.P., mengatakan sekolah menggunakan konsep Allah Centered Education sebagai dasar dalam berbagai kegiatan.
“Allah Centered Education itu bagaimana semua pembelajaran, kegiatan, program guru dan siswa, sampai aturan yang ada, kita dasarkan pada apa yang Allah inginkan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah,” ujar Febrie.
Meski membawa pendekatan berbasis Islam, sekolah tetap mengikuti kurikulum nasional karena terdaftar di Dinas Pendidikan. Nilai keislaman kemudian diintegrasikan ke dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah.
Febrie mencontohkan materi biologi. Menurutnya, pembelajaran mengenai anatomi dan kesehatan dapat dikaitkan dengan pembahasan mengenai kebesaran Allah, ayat Al-Qur’an, hadis, maupun keteladanan Rasulullah.
Baca Juga:Bangun Generasi Qurani dan Gemar Membaca, Al Fatwa Terapkan Program Literasi dan Al-Qur’an BerjenjangDari Pendidikan hingga Kemanusiaan, Rumah Yatim Jangkau 836 Ribu Penerima Manfaat
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam pembelajaran berbasis proyek. Siswa tidak hanya diarahkan menghasilkan sebuah produk, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja sama, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghadapi kemungkinan kegagalan.
