JABAR EKSPRES – Kejadian longsor di Perumahan Buana Flamingo, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Sejak awal Oktober 2026, sedikitnya lima kali longsor terjadi di kawasan tersebut.
Dampaknya, sejumlah infrastruktur lingkungan rusak dan keselamatan rumah warga mulai terancam.
Rangkaian longsor pertama dilaporkan terjadi pada malam 1 Oktober 2026, sekitar pukul 22.00–23.00 WIB. Peristiwa serupa kembali terjadi pada pagi 2 Oktober. Beberapa hari kemudian, tepatnya 6 Oktober, longsor susulan kembali menerjang kawasan perumahan.
Baca Juga:Tak Sekadar Razia, Operasi Patuh Lodaya di Singaparna Hadirkan Edukasi hingga Cek Kesehatan GratisSekda Jateng Bakal Tindak Tegas ASN Terlibat Judi Online
Ancaman pergerakan tanah berlanjut pada Minggu sore, 25 Oktober 2026, sekitar pukul 17.34 WIB. Longsor kembali dilaporkan terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Dampak kejadian berulang itu terlihat pada sejumlah infrastruktur perumahan. Jalan mengalami ambles, paving block terbelah, sedangkan struktur beton di sekitar bangunan mengalami retakan dan kerusakan.
Sejumlah rumah warga juga dilaporkan mengalami retak akibat pergerakan tanah. Salah satunya rumah di Blok D1 Nomor 8 milik Oki.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga, terutama terhadap keamanan tempat tinggal mereka. Selain keselamatan, warga juga mempertanyakan tanggung jawab pengembang menyusul longsor yang terus berulang di kawasan perumahan tersebut.
Divisi Teknik Buana Kassiti selaku pengembang Perumahan Buana Flamingo, Widya Jalu Latri, mengatakan penyebab longsor masih dalam tahap analisis sementara. Ia menduga derasnya aliran air yang tidak terkendali, ditambah intensitas hujan tinggi, menjadi pemicu pergerakan tanah.
“Jadi ketika ada air yang liar, kemudian ditambah lagi dengan hujan besar, terjadilah longsor,” ujarnya saat dimintai keterangan, Sabtu (31/10/2026).
Widya menjelaskan, pengembang telah melakukan penanganan setelah kejadian longsor sebelumnya. Perkuatan dilakukan dari bagian bawah lereng untuk mengantisipasi pergerakan tanah susulan.
Baca Juga:Perkuat Pengawasan Program Nasional, Inspektorat Tasikmalaya Dorong APIP Lebih ProaktifDi Hari Sumpah Pemuda, Taj Yasin Minta Aksi Nyata Pemuda Atasi Persoalan Masyarakat
Ia menyebut penanganan awal dilakukan setelah longsor pertama. Sementara kejadian berikutnya kembali terjadi pada 25 Oktober dan 29 Oktober.
“Hujan gede akhirnya terjadi kebencanaan tanah longsor di dalam lokasi projek. Jadi untuk sementara ini kita tanganin untuk area longsor di dalam. Sebenarnya kalau kalau misalkan dari luar juga kita sudah ada perkuatan yaitu sabuk borpile,” terang Widya.
Menurut dia, penanganan sementara saat ini diprioritaskan pada titik longsor di bagian dalam kawasan perumahan. Adapun area yang terdampak memiliki ketinggian sekitar 20 meter dengan panjang kurang lebih 22 meter.
