NU tidak boleh sampai ke sana.
Kita memiliki tradisi musyawarah, amanah, tawassuth, tasamuh, tawazun, dan ta’adul. Nilai-nilai tersebut tidak boleh hanya menjadi slogan dalam ceramah dan dokumen organisasi. Ia harus terlihat dalam cara kita memilih pemimpin.
Jangan Hanya Mengubah Sistem, Bangun Integritas
Pada akhirnya, perdebatan tentang voting atau Ahwa jangan sampai membuat kita lupa pada persoalan yang lebih mendasar.Sistem yang baik membutuhkan manusia yang berintegritas.
Sebaliknya, manusia yang berintegritas juga membutuhkan sistem yang melindunginya dari godaan dan tekanan.
Karena itu, kita membutuhkan keduanya.
Jika sistem voting dianggap memiliki kelemahan, perbaiki.
Baca Juga:Menghentikan Aliran Risywah di Muktamar NU: Menjaga Hati Nurani, Marwah Jam’iyah, dan Masa Depan OrganisasiPangdam Siliwangi Lepas Jambore Royal Enfield, Reborn Indonesia Diminta Jaga Kondusivitas Jabar
Jika Ahwa dianggap lebih sesuai dengan tradisi musyawarah, silakan diuji dan diperkuat.
Tetapi jangan pernah beranggapan bahwa perubahan mekanisme otomatis menghilangkan risywah.
Risywah akan selalu mencari celah selama manusia masih memiliki kepentingan dan sistem masih menyediakan ruang transaksi.
Maka yang harus kita lakukan adalah menutup celah itu.
Pertanyaan Terpenting Bukan “Siapa yang Menang?”, melainkan “Dengan Cara Apa Ia Menang?”
Pada akhirnya, persoalan Muktamar bukan hanya siapa yang menjadi Ketua Umum.Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Dengan cara apa seseorang memenangkan Muktamar?”
Sebab kemenangan yang diperoleh dengan membeli suara mungkin menghasilkan seorang pemenang.
Tetapi kemenangan yang diperoleh dengan menjaga amanah akan menghasilkan kehormatan bagi seluruh jam’iyah.
Kita tidak sedang berbicara untuk memenangkan calon tertentu.
Kita sedang berbicara tentang bagaimana menyelamatkan Muktamar dari budaya transaksi.
Mari kita hentikan aliran risywah bukan karena kita berpihak kepada calon tertentu, melainkan karena kita berpihak kepada kehormatan NU.Jika diberi sesuatu yang berpotensi mengikat pilihan, katakan:
“Terima kasih, tetapi pilihan kami tidak untuk diperjualbelikan.”Jika organisasi membutuhkan biaya, gunakan mekanisme resmi.
Jika kandidat datang, dengarkan visi dan misinya.
Jika kandidat menawarkan program, kaji rekam jejak dan programnya.
Baca Juga:BNNP Jabar Tegaskan Rehabilitasi BNN GratisSITH ITB Uji Coba Biodiesel dari Kemiri Afkir Bersama UMKM di Alor
Jika kandidat atau tim sukses menawarkan fasilitas sebagai imbalan dukungan, tolak dengan tegas.Dan ketika saatnya memilih tiba:
