JABAR EKSPRES – Kesibukan dan tekanan kehidupan di kota besar mulai mengubah cara masyarakat memilih tempat tinggal. Hunian tak lagi hanya soal rumah, tetapi juga lingkungan yang mendukung kualitas hidup.
Direktur Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali, mengatakan perubahan tersebut terlihat dari semakin besarnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggal yang mampu memberikan keseimbangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Orang sekarang tidak hanya mencari rumah, tetapi juga mencari kualitas hidup. Ada kebutuhan untuk punya ruang yang memungkinkan mereka beristirahat, beraktivitas dan menghabiskan waktu bersama keluarga,” kata Ryan, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga:Kerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 OrangWater Cannon Polres Tasikmalaya Tak Lagi Hadapi Massa, Kini Datangi Emak-Emak yang Perlu Air Bersih
Menurutnya, masyarakat urban kini tidak hanya mempertimbangkan aspek fisik bangunan ketika memilih tempat tinggal. Faktor lingkungan, ruang terbuka, akses terhadap fasilitas hingga kesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga turut menjadi pertimbangan.
Ia menyebut, perubahan gaya hidup tersebut turut mendorong perhatian terhadap konsep healing lifestyle dan slow living. Keduanya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan ritme kehidupan yang lebih seimbang di tengah rutinitas perkotaan.
Menurut Ryan, penerapan konsep tersebut tidak berarti masyarakat harus sepenuhnya meninggalkan aktivitas perkotaan. Sebaliknya, lingkungan tempat tinggal diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap produktif sekaligus memiliki waktu beristirahat.
“Ketika lingkungan mendukung orang untuk berjalan kaki, bersepeda atau sekadar menghabiskan waktu di ruang terbuka, itu menjadi bagian dari kualitas hidup,” ujarnya.
Kebutuhan terhadap lingkungan yang lebih nyaman juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya waktu bersama keluarga. Aktivitas sederhana di sekitar tempat tinggal dinilai dapat menjadi alternatif di tengah padatnya rutinitas.
Perubahan itu membuat kawasan hunian juga dituntut untuk menyediakan ruang yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan tempat tinggal. Ruang terbuka, jalur pedestrian dan fasilitas publik menjadi bagian dari lingkungan yang dapat menunjang aktivitas warga.
Ryan mengatakan, kemudahan mobilitas juga menjadi faktor yang membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan lingkungan tempat tinggal.
Baca Juga:Tanpa Inez di Championship, Penabur Cirebon Temukan Senjata Baru Jelang Final DBL West JavaSempat Terancam Comeback, Fivers Singkirkan Trimulia dan Tembus Final DBL West Java
Kehadiran Kereta Cepat Whoosh melalui Stasiun Padalarang, misalnya, membuat akses dari Jakarta menuju wilayah Bandung Barat menjadi lebih praktis. Kondisi tersebut membuka pilihan bagi masyarakat yang tetap membutuhkan konektivitas dengan Jakarta, namun menginginkan lingkungan dengan ritme kehidupan yang berbeda.
