Sensus Ekonomi Memotret Transformasi Pedagang Kain Cigondewah Berjualan Live Streaming

Sensus Ekonomi Memotret Transformasi Pedagang Kain Cigondewah Berjualan Live Streaming
Petugas SE (kiri) saat mendata di sela pedagang Pasar Kain Cigondewah yang tengah jualan secara Live Streaming. (Hendrik/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 pagi. Namun tak lebih 7 batang hidung pembeli lalu lalang di Pasar Kain Cigondewah. Anehnya lagi, di balik kesunyian itu Wisnu justru sibuk bercakap di depan layar ponsel yang terpatri di tripod. Ia menyodorkan kain brokat warna navy blue.

“Ini yang best seller minggu ini ya kak” ucapnya.

Hari itu Wisnu bukan sedang melakukan panggilan video. Pria 35 tahun itu tengah menjual kain melalui live streaming. Pemandangan itu adalah wajah baru Pasar Kain Cigondewah. Perubahan itulah yang kini dipotret Badan Pusat Statistik Kota Bandung dalam Sensus Ekonomi 2026, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga:Wamentrans Siapkan Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Ekonomi Baru Jaga Harga agar Tetap Terkendali, Bapanas Genjot Pasokan Bawang Putih

Pasar yang juga dikenal dengan nama Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC) itu sebenarnya bukan simpul baru ekonomi Kota Bandung. Tapi sudah cukup legendaris sebagai urat nadi perekonomian masyarakat.

Pasar di Kecamatan Bandung Kulon itu bagian dari Sentra Kain Cigondewah yang mulai tumbuh pada 1980-an. Kisah itu diawali dari segelintir orang yang mengadu nasib dengan menjual kain bekas alias limbah pabrik.

Usaha itu makin menjamur sehingga kawasan yang dulunya hamparan sawah itu kini berubah jadi sentra kain. Ratusan pedagang kain mengadu nasib di Sentra Kain Cigondewah.

Satu dari simpul sentra itu adalah Pasar Kain Cigondewah. Secara fisik, pembangunan dimulai pada 2001 dengan hanya berdiri 7 unit toko. Perlahan, pasar itu berkembang hingga sampai saat ini tercatat ada 71 pelaku usaha dengan 110 unit usaha.

Gaung Pasar Kain Cigondewah cukup menggema di era 2005 sampai 2015, tahun–tahun tersebut bisa dibilang masa kejayannya. Setiap hari pembeli datang berbondong-bondong ke kawasan tersebut.

Mereka menawar sembari berdesak-desakan memilih kain. Meski melelahkan, namun situasi itu membuat para penjual kegirangan. Meter demi meter gulungan kain bisa dipotong dan kemudian dibawa pulang pembeli. Ujungnya, omzet melejit. Bahkan mengantongi omzet Rp 25 juta sehari bukanlah hal mustahi.

Pasar yang Sepi

Kini situasi berubah 180 derajat, area parkir motor maupun mobil di Pasar Kain Cigondewah tampak lenggang. Garis parkir kendaraan masih tampak jelas walau sudah lama dicat ulang. Karena jarang terlindas roda kendaraan.

0 Komentar