JABAR EKSPRES — Pelaku industri geospasial nasional menyambut optimistis bergulirnya proyek Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASPP) yang berjalan sejak 2025 hingga 2029.
Proyek kolaborasi lintas kementerian yang didukung pendanaan Bank Dunia senilai USD 653 juta ini dinilai menjadi momentum strategis bagi keberlanjutan industri pemetaan dalam negeri.
Dalam struktur penganggarannya, Badan Informasi Geospasial (BIG) memperoleh alokasi terbesar kedua setelah Kementerian ATR/BPN, yakni sekitar USD 298 juta.
Baca Juga:Dipolisikan Usai Kritik Tata Kelola Pemerintahan KBB, BALAD Desak Copot Kepala BKPSDMAliansi Masyarakat Peduli Bandung Barat Desak Pembatalan Pelantikan Pejabat Eselon IIIĀ
Anggaran tersebut dialokasikan untuk menggarap komponen peta dasar skala besar 1:5.000 yang menjadi acuan aksi iklim, penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), hingga perizinan.
Persiapan Tender dan Adaptasi Teknologi
Project Manager PT Omni Spasial Strategis (Ossmap) sekaligus Ketua Masyarakat Ahli Survei Kadaster Indonesia (MASKI) Komisariat Wilayah Jawa Barat, Encep Gani Sugandi, S.T., menilai peluang besar dari proyek ini harus diimbangi dengan kesiapan matang dari internal perusahaan pemetaan nasional.
“Sebelum mengikuti tender, perusahaan harus melakukan koordinasi internal, terutama dengan tim administrasi yang terlibat. Selain itu, seluruh persyaratan harus dipersiapkan, mulai dari personel, peralatan, hingga kesiapan modal awal apabila nantinya memenangkan pekerjaan,” kata Encep Gani Sugandi.
Menanggapi skema pasar bebas dan keterlibatan pelaku industri global dalam mekanisme International Competitive Bidding (ICB), Encep memandang hal tersebut sebagai ruang untuk berkembang.
Dari sisi peralatan maupun personel sebenarnya beberapa perusahaan nasional sudah memiliki kemampuan yang memadai.
Kolaborasi dengan perusahaan internasional dapat menjadi langkah positif untuk mendukung proyek berskala besar sekaligus memperkuat kapasitas industri geospasial nasional.
Di sisi lain, Encep mengaitkan efisiensi pekerjaan dengan pemanfaatan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI) dalam pengolahan data geospasial.
Baca Juga:Penyaluran Anggaran Pokir Ratusan Miliar di KBB Diduga Tabrak Aturan SIPD, Aliansi Aktivis Siap Laporkan!Ribuan Pelari dari Berbagai Negara Ramaikan POCARI SWEAT Run Lombok 2026 di Sirkuit Mandalika
“AI memang sangat membantu pekerjaan geospasial. Namun hasilnya tetap harus difilter dan divalidasi sehingga data yang digunakan benar-benar akurat dan memberikan manfaat maksimal,” tegasnya.
Ia pun menambahkan bahwa penguatan kualitas SDM melalui uji kompetensi dan sertifikasi di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) merupakan kunci keberlanjutan industri.
“Kompetensi personel harus terus ditingkatkan melalui pelatihan dan uji kompetensi. Dengan SDM yang berkualitas, perusahaan nasional akan memiliki daya saing yang semakin kuat,” jelasnya.
