Warga Dua Desa di Bandung Keluhkan Debu Diduga Berasal dari Proyek Konstruksi

Kondisi jalan hingga pepohonan tertutup material debu diduga akibat aktivitas konstruksi perusahaan yang berda
Kondisi jalan hingga pepohonan tertutup material debu diduga akibat aktivitas konstruksi perusahaan yang berdampak terhadap warga di Desa Bojongsalam, Kecamatan Rancaekek dan Desa Tanjunglaya, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. (Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sejumlah warga di dua desa yang berada di perbatasan Kecamatan Cikancung dan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, mengeluhkan debu yang diduga berasal dari aktivitas sebuah perusahaan konstruksi. Selain mengganggu kenyamanan, debu tersebut juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan warga.

Dua wilayah yang terdampak yakni Desa Bojongsalam, Kecamatan Rancaekek, dan Desa Tanjunglaya, Kecamatan Cikancung.

Salah seorang warga, Fatimah (69), mengaku debu dari aktivitas perusahaan konstruksi hampir setiap hari menutupi badan jalan, teras rumah, hingga pepohonan di sekitar permukiman.

“Setiap hari harus disiram biar nggak masuk,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga:Golkar Cianjur Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Wahyu-Ramzi16.869 Jiwa di Tasikmalaya Mulai Kesulitan Air Bersih, BPBD Siapkan Distribusi 100 Ribu Liter Air

Menurut Fatimah, warga terpaksa menyapu dan menyiram halaman rumah hampir setiap satu hingga dua jam karena debu terus kembali beterbangan.

“Biasanya satu sampai dua jam sekali disiram, soalnya datang lagi, datang lagi. Pas nyiram kadang nggak kelihatan karena debunya muncul lagi,” tuturnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir, sejak aktivitas pengangkutan material menggunakan truk molen (mixer truck) semakin intensif.

Akibat debu yang terus beterbangan, aktivitas warga, termasuk usaha dagang, ikut terdampak. Warga juga mengaku sempat menggelar aksi protes terhadap aktivitas perusahaan tersebut.

“Warga juga sempat protes. Kemarin (20/7/2026) demo. Harapan warga pengennya ditutup,” katanya.

Fatimah mengaku lebih mengutamakan kesehatan dibandingkan bentuk kompensasi apa pun.

“Kami tidak mau dikasih uang, kami cuma pengen sehat. Debu ini bikin sakit mata, pilek, sesak juga saya,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, debu material membuat suasana di kawasan tersebut tampak memutih. Tak hanya menutupi badan jalan, debu juga menyelimuti pepohonan hingga mengubah warna daun yang semula hijau menjadi keputihan.

Baca Juga:Kurangi Sampah Plastik, ITB Olah Styrofoam Jadi Perekat Bernilai EkonomiPemkab Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Kekeringan, Lintas Sektor Disiagakan Hadapi Meluasnya Dampak Kemarau

Debu juga masuk ke permukiman warga, menutupi teras rumah, toko, hingga barang dagangan. Setiap kali kendaraan melintas, debu kembali beterbangan sehingga mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat.

Keluhan serupa disampaikan Sugeng Priyono (35), seorang pedagang bakso yang berjualan di kawasan tersebut. Ia mengaku usahanya ikut terdampak akibat debu yang terus masuk ke tempat berjualan.

“Iya, mengganggu. Saya di sini cuma usaha. Saya cuma pengen dapat penghasilan dari dagang di sini,” ujarnya.

0 Komentar