Sensus Ekonomi Baca Denyut Nadi Perajin Sepatu Cibaduyut Bertahan di Tengah Gempuran Impor

Rismawati (kiri) Petugas Sensus Ekonomi yang sempat tertegun mendengar cerita Abdul Fattah perajin sepatu Ciba
Rismawati (kiri) Petugas Sensus Ekonomi yang sempat tertegun mendengar cerita Abdul Fattah perajin sepatu Cibaduyut, Jumat (3/7). (Hendrik/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Sensus Ekonomi tak hanya mendata namun juga memotret kekuatan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah Sentra Industri Sepatu Cibaduyut. Para perajin menolak menyerah di tengah gempuran barang impor.

Hendrik Muchlison, Jabar Ekspres

Bau menyengat lem aibon dan ketukan palu bertalu – talu jadi pemandu Ranti Juliana dan Rismawati. Mereka adalah petugas Sensus Ekonomi Kota Bandung yang tengah menyusuri gang di Kampung Cibaduyut.

Pagi itu mentari telah bersinar memecah cuaca Bandung yang lebih dingin dari biasanya karena musim kemarau. Ranti dan Rismawati pun bersiap dan bergegas ke Kantor Kelurahan Cibaduyut. Tentu saja tak lupa memakai rompi dan Id Card khusus sensus.

Baca Juga:Resmikan Bank Kain Kafan Gratis di Rumah Aspirasi, Fathi: Bantu Masyarakat yang KesulitanJNE Bandung Perkuat Sinergi dengan UMKM, Ruang Kolaborasi Jadi Wadah Seller Tingkatkan Daya Saing Bisnis Digit

Selepas brifing dan menyeruput secangkir kopi, keduanya langsung bergerak ke gang-gang yang tak jauh dari kantor. Sesekali keduanya harus berhenti dan mepet ke dinding karena berpapasan dengan gerobak batagor yang didorong dari arah berlawanan.

Tibalah di rumah Abdul Fatah salah satu perajin sepatu Cibaduyut. Dengan senyum manisnya, Rismawati berusaha membius pria yang sudah 18 tahun berkutat di usaha menjahit kulit sapi kering itu. Rismawanti pun dipersilahkan masuk. Sementara Ranti melanjutkan langkah ke pelaku usaha lain.

Rismawati masuk dengan langkah hati-hati, karena lantai rumah Abdul Fatah penuh dengan tumpukan pola kulit yang siap dijahit. Termasuk ceceran lem aibon yang mengering.

Ia diajak ke lantai dua yang jadi bengkel utama Abdul Fatah. Tempat yang tak terlalu luas itu juga penuh dengan sepatu yang nyaris siap jual. Kebanyakan adalah sepatu pantofel hitam. Di ujung tangga juga nampak terdapat tumpukan bahan kulit yang belum dipotong. Ada juga beberapa helai bahan kulit yang digantung.

Sembari duduk di kursi kayu sederhana, Rismawati melontarkan beberapa pertanyaan ke Abdul Fatah. Sejumlah pertanyaan dijawab dengan lugas. Namun nada dan raut wajah Abdul Fatah berubah ketika sampai pada pertanyaan seputar omset.

Dengan kepala sedikit tertunduk dan usai menghela nafas dalam, Abdul Fatah pun menceritakan kondisi omsetnya. Pendapatan dari usahanya kian tak stabil. “Pesanan sudah tak seramai dulu, bisa gaji karyawan dan mutar untuk beli bahan baru saja sudah bersyukur,” cetus Abdul Fatah.

0 Komentar