Sensus Ekonomi Baca Denyut Nadi Perajin Sepatu Cibaduyut Bertahan di Tengah Gempuran Impor

Rismawati (kiri) Petugas Sensus Ekonomi yang sempat tertegun mendengar cerita Abdul Fattah perajin sepatu Ciba
Rismawati (kiri) Petugas Sensus Ekonomi yang sempat tertegun mendengar cerita Abdul Fattah perajin sepatu Cibaduyut, Jumat (3/7). (Hendrik/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Kisah Sepatu Cibaduyut bermula pada 1918. Kala itu ada warga Cibaduyut yang belajar membuat sepatu dari orang Jakarta. Perlahan dari hanya hitungan jari, perajin sepatu terus tumbuh. Pada 1940, usaha membuat alas kaki itu juga meluas ke beberapa wilayah tetangga. Tercatat pada tahun itu setidaknya ada 89 orang perajin sepatu di Cibaduyut.

Dalam satu dekade atau era 1950, perajin sepatu terus berkembang. Setidaknya ada 250 pelaku usaha. Mereka sampai membentuk perkumpulan yang dinamai Gabungan Pengusaha Sepatu Desa Bojongloa (GPSDB), lalu berubah nama menjadi Koperasi Perkulitan dan Sepatu Indonesia (KOPSI).

Puncak kejayaan Sentra Industri Sepatu Cibaduyut tercatat di era 1990. Kala itu Sepatu Cibaduyut sudah tak asing lagi di telinga warga Indonesia termasuk menjamah ke level global.

Baca Juga:Resmikan Bank Kain Kafan Gratis di Rumah Aspirasi, Fathi: Bantu Masyarakat yang KesulitanJNE Bandung Perkuat Sinergi dengan UMKM, Ruang Kolaborasi Jadi Wadah Seller Tingkatkan Daya Saing Bisnis Digit

Namun kini ketangguhan Sepatu Cibaduyut kian memudar. Ikon Patung Sepatu di ujung jalan Cibaduyut juga sirna lantaran tergeser pembangunan jembatan layang.

Para pelaku usaha banyak yang gulung tikar. Tangan-tangan terampil perajin sepatu juga banyak beralih ke profesi lain.

Dinas Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung mencatat pada 2010 masih ada 577 unit usaha di Cibaduyut dengan sekitar 3.008 tenaga kerja. Lalu di 2016 angkanya kian memudar. Tercatat pelaku usahanya tersisa 148 unit dengan tenaga kerja 733 orang. Tahun itu juga ada pemisahan dinas di Kota Bandung hingga dibentuklah Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) sendiri.

Lalu pada 2023, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat sempat memaparkan data bahwa usaha kerajinan sepatu di Cibaduyut tersisa 50 unit. Sementara perkembangan terbaru terkait jumlah usaha dan perajin Cibaduyut tengah dinanti. Itu salah satu fungsi Sensus Ekonomi yang kini sedang berlangsung.

BPS Kota Bandung saat ini menerjunkan 1.909 petugas sensus untuk mensukseskan Sensus Ekonomi 2026. Mereka disebar ke seluruh penjuru kota. Termasuk dalam hal ini kawasan Cibaduyut.

Sensus Ekonomi 2026 memang masih akan bergulir hingga 31 Agustus mendatang, menyisir ratusan ribu unit usaha di Kota Kembang. Namun bagi perajin seperti Abdul Fatah dan Samsul, sensus ini bukan sekadar urusan mencentang kolom angka di aplikasi petugas. Ini adalah tentang harapan agar suara dari lantai dua bengkel kerja mereka yang pengap terdengar sampai ke Istana Merdeka. Menjadi perhatian para pemangku kebijakan.

0 Komentar