Pertama, pelebaran jalan itu sendiri yang akan menambah kapasitas ruas agar kendaraan tidak lagi harus antre atau saling menyenggol di jalur sempit. Kedua, pengaspalan ulang dengan menggunakan material hot mix atau aspal panas yang dikenal memiliki daya rekat dan ketahanan lebih baik terhadap cuaca tropis serta beban lalu lintas berat.
Ketiga, normalisasi aliran atau saluran drainase yang selama ini kerap tersumbat dan menyebabkan genangan air saat musim hujan, yang pada akhirnya merusak konstruksi jalan secara perlahan. Dengan pendekatan menyeluruh ini, diharapkan kualitas infrastruktur tidak hanya bagus di atas permukaan, tetapi juga kuat dari bawah.
“Setiap meter jalan yang dibangun hari ini adalah investasi untuk perjalanan yang lebih lancar, konektivitas yang lebih kuat, dan masa depan Jawa Barat yang lebih maju,” demikian disampaikan dalam informasi proyek yang dipublikasikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut, Minggu (5/7/2026).
Baca Juga:Soal Jalan Desa Cibongas, Kadis PUTRLH Tasikmalaya: CCO Harus Lewat Kajian TeknisUsai Blokade Jalan dan Bakar Ban, Bupati Temui Warga dan Pastikan Ruas Cibongas Masuk CCO
Hingga saat ini progres pembangunan di lapangan telah mencapai angka 17 persen. Meskipun masih tergolong awal, capaian ini menunjukkan bahwa pengerjaan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan tidak mengalami kendala berarti.
Tim teknis terus melakukan pemantauan ketat di setiap segmen untuk memastikan spesifikasi material dan metode pelaksanaan sesuai dengan rencana kerja yang disusun. Langkah percepatan juga terus dilakukan di titik-titik yang dinilai memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi agar pengerjaan tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan di jam-jam sibuk.
Lebih dari sekadar urusan teknis dan anggaran, proyek pelebaran jalan ini juga membawa angin segar bagi perekonomian lokal, khususnya dalam hal penyerapan tenaga kerja.
Selama proses konstruksi berlangsung, tercatat sebanyak 66 tenaga kerja dilibatkan dalam berbagai posisi, mulai dari pekerja lapangan, operator alat berat, hingga tenaga teknis pengawas. Yang membanggakan, dari jumlah tersebut, 20 orang di antaranya merupakan tenaga kerja lokal yang direkrut langsung dari desa-desa di sekitar lokasi proyek.
Kebijakan ini sengaja diterapkan untuk memberikan efek ganda dari pembangunan, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton atas perubahan infrastruktur, tetapi juga merasakan dampak ekonomi langsung melalui upah dan aktivitas usaha kecil yang muncul di sekitar proyek.
