“Kalau mati lampu biasanya memukul tiang listrik untuk kasih tahu warga, karena wilayah RT 03 RW 07 ini memang paling rawan,” ujarnya.
Dede menjelaskan, Kampung Panaragan RT 03 RW 07 pernah dilanda banjir cukup besar pada 2016 dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter hingga 2 meter. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan warga membuat EWS secara swadaya.
Saat banjir terjadi, sejumlah rumah yang berada dekat bantaran sungai sempat terendam hingga air masuk ke dalam rumah warga. Bahkan beberapa warga juga harus mengungsi akibat luapan Sungai Cisadane tersebut.
Baca Juga:Didatangkan dari Bima NTB, Sapi Kurban di Cibinong Bogor Dibanderol Rp15 Juta hingga Rp45 JutaPemkab Tasikmalaya Resmi Luncurkan KURDA Nol Persen, Solusi Modal Usaha Tanpa Bunga
Selain itu, banjir juga kembali terjadi pada 2023 saat hujan deras mengguyur Kota Bogor sejak pagi hingga malam hari. Saat itu air sempat naik hingga ke teras rumah warga dengan ketinggian sekitar satu meter.
“Alhamdulillah selama saya di sini selama puluhan tahun dan terjadi bamjir itu tidak ada korban jiwa, cuman rumah aja terdampak itu pun tidak terlalu parah yaa. Dengan adanya alarm manual ini warga jadi lebih siap dan lebih paham saat kondisi air naik,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) Panaragan, Rika Sabar Putri mengatakan, keberadaan EWS perlahan mengubah kebiasaan warga yang sebelumnya menganggap banjir sebagai hal biasa.
Ia mengaku terus mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah ke sungai karena dapat memperparah banjir saat debit air meningkat sebeb mereka tinggal di kawasan bantaran sungai.
“Saya mengajarkan masyarakat bahwa kita akan kembali ke alam, kalau kita baik kepada alam akan menerima baik juga. Saya juga mengajarkan warga untuk tidak membuang sampah ke kali supaya menghindari banjir,” ujar Rika.
Menurutnya, warga di RT 03 RW 07 kini sudah lebih mandiri dan terbiasa melakukan antisipasi ketika alarm EWS dibunyikan.
“Alhamdulillah warga RW 07 sudah mandiri dan sudah terbiasa, apalagi dengan adanya EWS mereka sudah antisipasi sendiri,” katanya.
Baca Juga:Anaknya Mau Masuk SD, Puluhan Orang Tua Murid TK Mutiara Bunda Belajar Parenting60 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang dalam Kebakaran Peternakan di Cariu Bogor
Rika juga menyebut alat EWS manual tersebut sempat beberapa kali mengalami kerusakan. Namun perbaikan dilakukan secara swadaya oleh warga bersama pengurus wilayah setempat.
