Warga Bantaran Cisadane di Panaragan Bogor Bangun EWS Swadaya untuk Antisipasi Banjir

Warga Bantaran Cisadane di Panaragan Bogor Bangun EWS Swadaya untuk Antisipasi Banjir
Warga Bantaran Cisadane di Panaragan Bogor Bangun EWS Swadaya untuk Antisipasi Banjir
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Warga RT 03 RW 07 sebanyak 430 KK di Kampung Panaragan, Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor membuat sistem Early Warning System (EWS) atau alat pendeteksi banjir secara manual sebagai upaya mitigasi bencana di kawasan bantaran Sungai Cisadane yang rawan banjir.

Ketua RW 07 Kelurahan Panaragan, Dede Suparman mengatakan, alarm manual tersebut dibuat secara swadaya oleh masyarakat sejak tahun 2016. Alarm itu digunakan untuk memberi tanda kepada warga ketika debit air Sungai Cisadane mulai meningkat dan berpotensi menyebabkan banjir.

“Karena pemukimannya dekat sekali dengan Sungai Cisadane, jadi alarm ini memang diperlukan. Saat alarm dibunyikan, warga sudah paham artinya air naik dan mereka harus siap-siap, entah berjaga ataupun bersiap evakuasi diri,” ujar Dede saat ditemui di Panaragan, Bogor Tengah, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga:Didatangkan dari Bima NTB, Sapi Kurban di Cibinong Bogor Dibanderol Rp15 Juta hingga Rp45 JutaPemkab Tasikmalaya Resmi Luncurkan KURDA Nol Persen, Solusi Modal Usaha Tanpa Bunga

Dede menjelaskan, sistem alarm banjir di wilayahnya masih bekerja secara manual dengan pengawasan langsung warga setempat yang dilakukan secara bergantian, terutama saat hujan deras turun hingga larut malam.

Ia juga menyebut, terdapat tombol khusus alarm yang berada di rumah Ketua RW yang lokasinya dekat bantaran sungai. Sementara di tepi sungai menuju permukiman warga dipasang tiang pengukur debit air setinggi sekitar 300 sentimeter untuk memantau kenaikan muka air.

Ketika debit air mulai naik hingga kisaran 120 sentimeter, alarm akan dibunyikan sebagai tanda warga harus bersiaga menghadapi potensi banjir.

Suara alarm tersebut cukup keras hingga dapat terdengar warga dalam radius sekitar 500 meter dari bantaran sungai. Untuk memperluas jangkauan suara, warga juga memasang pengeras suara di pertigaan jalan sehingga alarm dapat terdengar jelas hingga ke permukiman saat dibunyikan.

“Kalau hujan deras, apalagi malam hari, biasanya saya berjaga untuk memantau kondisi air. Kalau saya sedang tidak ada, biasanya keluarga atau warga sekitar yang gantian memantau karena warga sudah paham daerah sini rawan banjir,” katanya.

Ia mengatakan, bunyi alarm menjadi tanda awal bagi warga untuk mempersiapkan diri dan mengantisipasi kemungkinan air meluap ke permukiman.

Bahkan saat listrik padam dan alarm tidak dapat digunakan, warga tetap memiliki cara tradisional untuk memberi peringatan bahaya, yakni dengan memukul tiang listrik menggunakan kentongan agar suaranya terdengar hingga ke permukiman warga.

0 Komentar