JABAR EKSPRES – Jelang Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei mendatang, deretan kandang hewan kurban di sepanjang Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor mulai dipadati calon pembeli.
Aroma kotoran dan rumput hijau bercampur dengan suara auman sapi menjadi pemandangan khas yag muncul setiap sore hari.
Di tengah ramainya pencarian hewan kurban, para pedagang tetap menyimpan harapan agar seluruh sapi dagangannya ludes terjual sebelum hari H.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Resmi Luncurkan KURDA Nol Persen, Solusi Modal Usaha Tanpa BungaAnaknya Mau Masuk SD, Puluhan Orang Tua Murid TK Mutiara Bunda Belajar Parenting
Salah satunya dirasakan Bima, marketing sekaligus pengelola kandang hewan kurban asal Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tahun ini, ia mendatangkan puluhan sapi dari wilayah Bima, Dompu hingga Sumbawa untuk memenuhi kebutuhan kurban masyarakat Jabodetabek.
“Untuk hari ini tinggal beberapa ekor sih Alhamdulillah. Tapi keyakinan kita pasti bakalan habis, karena di tempat lain juga sudah pada kosong,” kata Bima saat dijumpai Jabar Ekspres pada Rabu (20/5/26).
Kata dia, sejak awal dirinya membawa sekitar 78 ekor sapi. Kini jumlahnya tersisa sekitar 30 ekor, didominasi sapi dengan harga di bawah Rp22 juta.
“Yang tersisa ini kebanyakan harga Rp17 juta sampai Rp22 juta ke bawah,” terangnya.
Di kandangnya, jenis sapi yang dijual cukup beragam. Namun ia mengaku lebih memprioritaskan sapi lokal NTB seperti sapi Bima dan sapi Bali yang langsung didatangkan dari daerah asalnya.
Selain itu, kata Bima, tersedia pula sapi Brahman dan sapi Ongole yang umum ditemui di wilayah Jawa Barat. Harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung bobot sapi.
Baca Juga:60 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang dalam Kebakaran Peternakan di Cariu BogorBangunan Langgar Garis Sempadan Jalan, Bupati Tasikmalaya: Bongkar Sendiri atau Kita Garuk Pakai Alat Berat!
“Kalau paling murah mulai Rp15 jutaan dengan bobot sekitar 150 kilogram. Yang paling tingi sampai Rp45 juta dengan bobot sekitar 700 kilogram,” terang dia.
Meski penjualan tahun ini cukup baik, Bima mengakui kondisi ekonomi masyarakat turut memengaruhi daya beli calon pembeli dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Namun untuk urusan pakan, ia mengaku tidak mengalami hambatan berarti.
Menurutnya, karakter sapi asal Bima justru lebih mudah dirawat dibandng sapi lokal Jawa.
“Kalau sapi Bima itu sapi umbaran, jadi perawatannya nggak begitu sulit. Dia makan hijau-hijauan, daun apa aja dimakan,” katanya.
